Tanggapi Pernyataan TGPF Kasus Novel Baswedan, KPK: Temukan Pelaku, Jangan Cari Alasan!

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Novel Baswedan fokus menemukan pelaku.

Tanggapi Pernyataan TGPF Kasus Novel Baswedan, KPK: Temukan Pelaku, Jangan Cari Alasan!
KOMPAS.com/DYLAN APRIALDO RACHMAN
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (16/7/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Novel Baswedan fokus menemukan pelaku.

KPK juga meminta TGPF Novel Baswedan tidak mencari-cari alasan dalam pengungkapan kasus ini.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif angkat bicara mengenai TGPF Novel Baswedan yang menyinggung ada enam kasus high profile.

TGPF diketahui menyebut, penyidik KPK diduga menggunakan kewenangan yang berlebihan sehingga berpotensi memunculkan balas dendam atau serangan balik terhadap Novel.

"KPK kurang memahami konteks penggunaan istilah excessive use of power oleh TGPF. Namun, kami tegaskan dalam melaksanakan tugasnya, penyidik menggunakan wewenang sesuai hukum acara yang berlaku," ujar Laode lewat pesan singkat, Rabu (17/7/2019).

Ada Tiga Sosok Diduga Jadi Penyerang Novel Baswedan, TGPF Rekomendasikan Polisi Ungkap Ketiganya

Laode kemudian mencontohkan salah satu dari enam kasus yang dimaksud, yakni kasus korupsi mantan Bupati Buol.

Ia menegaskan bahwa Novel beserta tim penyidik bahkan mendapatkan serangan ketika melakukan penyidikan.

Itu menunjukkan bahwa penyerangan terhadap penyidik KPK bukan disebakan oleh penggunaan kewenangan yang berlebihan, namun itu sebagai perlawanan koruptor.

Sebelumnya, anggota TGPF Kasus Novel Baswedan, Nur Kholis menyebut, ada 6 kasus high profile yang mungkin memunculkan balas dendam atau serangan balik terhadap Novel.

Menurut Nur Kholis, lima dari enam kasus tersebut yakni kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP); kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar; kasus Mantan Sekjen MA, Nurhadi; kasus korupsi mantan Bupati Buol, Amran Batalipu; dan kasus korupsi Wisma Atlet.

"TGPF meyakini kasus itu berpotensi menimbulkan serangan balik atau balas dendam karena adanya dugaan penggunaan kewenangan berlebihan," kata Nur Kholis saat membacakan hasil penyelidikan mereka di Mabes Polri, Jakarta, Rabu siang.

Sementara itu, satu kasus lain tidak ditangani Novel sebagai penyidik KPK, tetapi tidak menutup kemungkinan ada keterkaitan dengan kasus penyerangan terhadap Novel. (Kompas.com/Christoforus Ristianto)

Kata Pakar Hukum Tentang TGPF Novel Baswedan, Kalau Tidak Ada Tersangka, Ya Tidak Maksimal

Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved