Stadion GBLA Tak Lagi Jadi Kandang Persib Bandung, Banyak Pedagang Kaki Lima Gulung Tikar

Penyebab lainnya, lanjut dia, ketatnya penjagaan dan pembatasan waktu operasional kegiatan di sekitar stadion yang dilakuka oleh para petugas kepolisi

Stadion GBLA Tak Lagi Jadi Kandang Persib Bandung, Banyak Pedagang Kaki Lima Gulung Tikar
Cipta Permana/Tribun Jabar
Salah seorang pedagang hanya bisa duduk termenung menunggu datangnya pembeli yang hadir ke Stadion GBLA. Selasa (16/7/2019) 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pasca-musibah pengeroyokan terhadap Haringga Sirla hingga tewas, September 2018 silam, Stadion Gelora Bandung Lautan Api/GBLA tak lagi digunakan untuk laga Persib Bandung.

Sudah setahun lamanya Stadion GBLA sepi dari aktivitas pertandingan Persib Bandung.

Kondisi ini, selain membuat tidak adanya pemasukan bagi anggaran pemerliharaan GBLA, juga membuat sejumlah pedagang kaki lima 'menjerit'.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terpaksa gulung tikar, karena tidak adanya pembeli yang datang.

Salah seorang PKL makanan ringan dan kopi, Sutrisno (51) yang juga merupakan warga setempat mengaku, sejak memulai usahanya pada tahun 2011 lalu, kondisi sepinya pembeli baru dirasakannya kali ini.

Di mana turunnya pendapatan dialaminya hingga 80 persen dari kondisi aktifnya Stadion GBLA atau sebelum kasus tewasnya Haringga Sirla.

"Perbandingannya (omset) jauh banget sampai 80 persen penurunannya. Biasanya kalau Persib main, bahkan sejak dua hari sebelumnya bisa dapat Rp. 5 juta per hari, sekarang Rp. 500 ribu aja udah susah banget," ujarnya saat ditemui di lapak dagangnya di depan Gerbang Biru Stadion GBLA, Selasa (16/7/2019).

Penyebab lainnya, lanjut dia, ketatnya penjagaan dan pembatasan waktu operasional kegiatan di sekitar stadion yang dilakuka oleh para petugas kepolisian.

"Biasanya anak-anak motor atau warga sekitar suka nongkrong sampai malem disini, sekarang, suka ada patroli tiap jam, jam 3 sore ada, jam 5 ada, jam 7 juga ada, jadi udah engga boleh kumpul-kumpul lama lagi," ucapnya.

Guna mensiasati kondisi tersebut, dirinya tidak pernah lagi membeli persediaan barang dagangan secara banyak, dan menggantinya secara eceran dari toko grosir terdekat. Bahkan menurutnya, ada beberapa pedangan musiman yang melakukan mark up harga di luar kewajaran guna mencari untung lebih.

Halaman
12
Penulis: Cipta Permana
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved