Pengaspalan Jalan Raya Bandung-Cirebon, Pedagang Kehilangan Ruang untuk Jualan

Para pedagang yang biasa berdagang di pinggir jalan mengeluhkan pengaspalan jalan di pinggir Jalan Raya Bandung-Cirebon di wilayah Kecamatan Tanjungsa

Pengaspalan Jalan Raya Bandung-Cirebon, Pedagang Kehilangan Ruang untuk Jualan
Tribun Jabar/Seli Andina
Para pedagang yang biasa berdagang di pinggir jalan mengeluhkan pengaspalan jalan di pinggir Jalan Raya Bandung-Cirebon di wilayah Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Seli Andina Miranti

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Para pedagang yang biasa berdagang di pinggir jalan mengeluhkan pengaspalan jalan di pinggir Jalan Raya Bandung-Cirebon di wilayah Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

Pasalnya, pengaspalan dilakukan hingga menghabiskan ruang yang seharusnya diperuntukkan bagi trotoar.

Jarak dari ujung aspal jalan raya ke bangunan atau pagar bangunan di samping jalan bahkan hanya berjarak sekitar 50 sentimeter.

Para pejalan kaki yang berjalan di pinggir jalan pun harus berebut ruang dengan kendaraan bermotor yang menyalip dari samping.

Diaspal Lagi, Jalan Raya Tanjungsari Sumedang Tak Sisakan Ruang bagi Pejalan Kaki

Kondisi ini pun menyebabkan para pedagang harus memundurkan gerobak dagangannya hingga ke sebelah selokan.

"Jadi bahaya, sekarang kan tidak ada batas dengan jalan raya, bisa terserempet kendaraan," ujar Memey (34), pedagang batagor yang berjualan di depan Kantor Desa Tanjungsari, ketika ditemui Senin (15/7/2019).

Memey mengeluh, kini gerobaknya sangat 'mepet' selokan, hanya menyisakan ruang sekitar 20 sentimeter untuknya berdiri di belakang gerobak.

"Saya jadi tidak bisa duduk dan hanya cukup untuk berdiri, buat kursi plastik saja tidak cukup," ujar Memey.

Hal serupa disampaikan Safri (40), pedagang sosis goreng yang biasa berjualan di seberang Pegadaian Tanjungsari.

Safri mengeluhkan tidak adanya ruang untuk para pedagang maupun pejalan kaki di pinggir Jalan Raya Bandung-Cirebon di wilayah Tanjungsari ini.

Sejak pelebaran jalan, Safri mengaku kerap hampir terserempet kendaraan yang melintas, terutama di sore hari saat volume kendaraan meningkat.

"Sering hampir terserempet motor atau angkot, padahal saya jalan sudah miring-miring mepet pagar, malah kalau berjualan, gerobak saya sudah hampir mepet bangunan," ujar Safri.

Safri dan Memey berharap jalan raya bisa kembali seperti semula dan menyisakan ruang bagi para pengguna jalan dan pedagang sehingga tidak membahayakan.

Warga di Sekitar Waduk Jatigede Sumedang Kesulitan Air Bersih, Ada yang Mulai Beli Air

Waduk Jatigede Surut, Sejumlah Rencana Dilakukan Pemkab Sumedang Agar Kekeringan Tidak Meluas

Penulis: Seli Andina Miranti
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved