Tari Rudat Khas Cirebon, Awalnya Digunakan Sebagai Bela Diri saat Perang Kedondong di Cirebon

Sejalan dengan tujuannya untuk bela diri, Tari Rudat digunakan para prajurit untuk melawan penjajah saat Perang Kedondong tahun 1918 - 1926 Masehi.

Tari Rudat Khas Cirebon, Awalnya Digunakan Sebagai Bela Diri saat Perang Kedondong di Cirebon
Tribun Jabar/ Siti Masithoh
Tari Rudat khas Cirebon menjadi salah satu tarian yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Tari Rudat khas Cirebon menjadi salah satu tarian yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat.

Keberadaannya sudah ada sejak abad ke-16 masehi. Tariannya digagas oleh para ulama di beberapa pondok pesantren di Cirebon.

Kasi Kesenian Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Momon Saptaji, mengatakan, tari rudat khas Cirebon merupakan tarian yang diambil dari olah gerak permainan silat atau bela diri.

Saat itu, Tari Rudat dipakai sebagai ilmu bela diri yang diajarkan oleh kiai kepada para santri.

"Dulu itu kan pesantren juga merupakan markas pasukan untuk mengusir penjajah. Jadi tarian ini bukan untuk penyambutan tamu, tapi sebagai bela diri," kata Momon kepada Tribun Jabar, Minggu (7/7/2019).

Dari situlah, kata Momon, tarian rudat menjadi permainan dalam bentuk bela diri.

Air Sumur Jadi Warna Hitam, Warga Berharap Adanya Bantuan dari Pemerintah

Sejalan dengan tujuannya untuk bela diri, Tari Rudat digunakan para prajurit untuk melawan penjajah saat Perang Kedondong tahun 1918 - 1926 Masehi.

"Saat itu di Cirebon terjadi peperangan besar. Perang Kedondong adanya di sekitar Kecamatan Susukan, kabupaten Cirebon. Di situ pula tari rudat sudah ada untuk ilmu bela diri," tambahnya.

Umumnya saat itu, tarian rudat dibawakan oleh pemain laki-laki berpakaian komprang dengan warna hitam atau putih.

Halaman
123
Penulis: Siti Masithoh
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved