Petani di 4 Kampung Kabupaten Garut Tolak Bayar Pajak, Lahan Sawahnya Tercemar Limbah

Petugas pajak lapangan Kelurahan Sukamantri, Deni Herdiana menuturkan, petani yang tidak membayar pajak tersebar di empat kampung

Petani di 4 Kampung Kabupaten Garut Tolak Bayar Pajak, Lahan Sawahnya Tercemar Limbah
Dok.Tribun Jabar
Ilustrasi: Sawah dengan kondisi air yang tercemar limbah. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Lahan sawahnya terkena limbah industri kulit, para petani di Kelurahan Sukamantri, Kecamatan Garut Kota enggan membayar pajak.

Petani beralasan hasil taninya gagal panen sehingga tak mampu membayar pajak.

Petugas pajak lapangan Kelurahan Sukamantri, Deni Herdiana menuturkan, petani yang tidak membayar pajak tersebar di empat kampung. Yakni Kampung Lengkong, Bojonglarang, Copong, dan Tanjungpura.

"Lahan sawahnya terdampak langsung limbah cair kulit. Luas lahan yang terdampak sekitar 90 hektare," ujar Deni, Minggu (7/7/2019).

Kloter Pertama Calon Haji Kabupaten Garut Berangkat Selasa

Lahan sawah yang digarap petani, lanjutnya, mengalami gagal panen. Tanaman padi tidak bisa dipanen karena tanah dan air telah tercampur limbah.

"Sebanyak 60 persen petani tidak mau memenuni kewajiban bayar pajak. Padahal dulu lahan itu sangat produktif," katanya.

Keluhan petani itu bukan yang pertama kali disampaikan ke kelurahan. Petani sudah sering merugi karena gagal panen. Limbah dari industri kulit itu mengalir ke sungai yang jadi sumber utama pertanian.

"Tidak ada sumber air yang lain lagi. Jadi petani terpaksa pakai air yang ada," ucapnya.

Petani Kopi Garut Butuh Tambahan Modal dan Pelatihan, Banyak Petani Belum Tahu Cara Mengolah Kopi

Bukan hanya berdampak ke lahan pertanian, limbah cair juga membuat air sumur milik warga kotor. Akibatnya tak bisa dipakai untuk dikonsumsi sebagai air minum.

"Warga terpaksa beli air untuk minum. Kalau mandi masih dipakai. Tapi dampaknya bikin kulit gatal-gatal," katanya.

Petani berharap Pemkab Garut bisa segera menyelesaikan dampak dari limbah kulit. Jangan sampai keberadaan industri yang jadi produk unggulan di Garut itu merugikan masyarakat.

"Petani inginnya limbah itu bisa segera dibersihkan. Ya IPALnya (instalasi pengolahan air limbah) difungsikan," ucapnya. (firman wijaksana)

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved