Gelar War No Sing Yes-2, Forum UKM Digital Kreatif Ajak Generasi Milenial Bersatu

Forum UKM Digital Kreatif Indonesia atau FUDiKI kembali menggelar War No Sing Yes.

Gelar War No Sing Yes-2, Forum UKM Digital Kreatif Ajak Generasi Milenial Bersatu
Istimewa
Ketua Umum Forum UKM Digital Kreatif Indonesia (FUDiKI), Tjahjo Ruruh Djatmiko (ketiga kanan) di acara War No Sing Yes yang digelar FUDiKI di Omah Mbudur Borobudur Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Kemal Setia Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Forum UKM Digital Kreatif Indonesia atau FUDiKI kembali menggelar War No Sing Yes.

Adapun Tema War No Sing Yes 2 kali ini adalah “Merajut Keberagaman Dalam Kebersamaan Membentuk Benteng Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, Ideologi, Politik yang Tangguh pada Generasi Milenial Bersama Usaha Ekonomi Kerakyatan dalam Melestarikan Harmonisasi Budaya Luhur Bangsa”.

Ketua Umum FUDiKI, Tjahjo Ruruh Djatmiko, menjelaskan bahwa War No Sing Yes adalah sebuah acara yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara yang sangat agung ke tingkat yang tertinggi di peradaban dunia.

Menurut Tjahjo, inti dari War No Sing Yes adalah mengajak seluruh masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial Bangsa Indonesia dan dunia lebih mengedepankan kebersamaan dari adanya keberagaman yang ada tanpa harus terjadi permusuhan, peperangan, pertikaian antar sesama umat manusia di dunia.

"Dengan cara mengangkat filosofi Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa, itu menjadi simbol kebersamaan, keharmonisan dunia , unity in diversity. Maka adanya perbedaan suku, ras, agama, itu adalah sebuah kekayaan yang harus dihargai tanpa harus memperuncing perbedaan tersebut menjadi sebuah perpecahan, permusuhan, peperangan yang akan menimbulkan ketidak nyamanan masyarakat, ketidak stabilan negara, perang saudara dan lain lain," tutur Tjahjo dalam rilis yang diterima Tribunjabar.id, Minggu (7/7/2019).

Dinilai Ramah Lingkungan, Pemkab Indramayu Berikan Penghargaan kepada 3 UKM

Acara War No Sing Yes yang dihelat di Omah Mbudur Borobudur Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 29-30 Juni, kata Tjahjo, juga bertujuan membentuk dan membangun karakter baru kebangsaan pada generasi milenial Indonesia yang juga peduli akan hasil mahakarya bangsa Indonesia.

"Harapan kami kegiatan ini bisa menjadi rolemodel dalam membumikan makna Pancasila dan NKRI di generasi baru milenial," harap Tjahjo.

Tjaho menekankan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan indahnya kebersamaan antar-pelajar dari beberapa sekolah yang berbeda agama dari sekolah negeri, swasta, dan pesantren. Beberapa kegiatan bertujuan memberikan pemahaman Pancasila dan NKRI melalui team work kebangsaan milenial tersebut.

Selain itu juga memberikan pemahaman sejak dini tentang ancaman narkoba, anarkis, tawuran, paham radikalisme yang perlu diantisipasi, dihindari, dan dicegah berkembang di Indonesia.

Lestarikan Budaya Jawa, UKM Djawa Tjap Parabola Telkom University Gelar Ludruk dengan Lakon Ini

Membaurnya para pelajar dari berbagai macam segmen dalam kegiatan team work kebangsaan dan pelatihan akan memunculkan kebersamaan dan kebersatuan di antara generasi milenial.

"War No Sing Yes juga ditujukan untuk merespons, melawan, meng-counter masuk dan berkembangnya pengaruh assymetric WAR 7 proxy (Food, Film,Fashion, Fun Games, Fantasy, Free Sex, Free Thinking) di kalangan generasi milenial, juga menangkal masuknya paham radikalisme , tidak mengenal anarkisme, menangkal Narkoba dan menjauhi tawuran. Pada akhirnya diharapkan menghasilkan generasi milenial yang tangguh , percaya diri , penuh kreativitas dan produktivitas tinggi. Filosofi Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa sangat relevan untuk tetap menjadi solusi bagi bangsa Indonesia saat ini dan bahkan bagi seluruh dunia yang bermanfaat untuk semua umat manusia di dunia," katanya.

Diakhir acara itu, Tjahjo Ruruh Djatmiko juga menjelaskan output dari kegiatan War No Sing Yes -2 ini yakni menjadikan kegiatan ini sebagai role model dalam dua hal, yaitu pertama menanamkan Pancasila dan NKRI dalam membentuk dan membangu karakter baru kebangsaan milenial dan kedua adalah Milenial Care yakni cinta terhadap mahakarya budaya luhur bangsa Indonesia untuk dilestarikan agar tidak punah. (*)

Penulis: Kemal Setia Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved