Perajin Nata de Coco di Ciamis Kekurangan Bahan Baku, Padahal Daerah Sentra Perkebunan Kelapa

Dari pabrikan di Bekasi tersebut kata Dede ada permintaan nata de coco lembaran sebanyak 60 ton per minggu.

Perajin Nata de Coco di Ciamis Kekurangan Bahan Baku, Padahal Daerah Sentra Perkebunan Kelapa
TRIBUN JABAR/BUKBIS
Pembuatan Nata De Coco. 

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Meski Ciamis, Pangandaran dan Tasikmalaya merupakan sentra perkebunan kelapa rakyat, namun para perajin nata de coco di Ciamis beberapa bulan terakhir kesulitan bahan baku berupa air kelapa.

“Untuk kebutuhan air kelapa kami terpaksa mendatangkan dari Gombong (Jateng), Majalengka, Indramayu bahkan dari Bandung,” ujar Dede Supriadi (48), perajin nata de coco dari Dusun Badak Jalu Desa Ciulu Kecamatan Banjarsari Ciamis kepada Tribun Rabu (3/7).

Kondisi ini kata Dede sangat ironis, karena Ciamis maupun daerah pemekarannya, Kabupaten Pangandaran merupakan sentra perkebunan kelapa rakyat di Jabar.

‘Selama ini kami memang mengandalkan pasokan air kelapa dari Ciamis dan Pangandaran. Namun sekarang sekarang permintaan nata de coco lembaran untuk pabrik (minuman ringan) meningkat. Terutama dari Bekasi,” katanya.

Dari pabrikan di Bekasi tersebut kata Dede ada permintaan nata de coco lembaran sebanyak 60 ton per minggu.

Tapi yang terpenuhi hanya sekitar 12 sampai 15 ton/minggu.

Keterbatasan produksi tersebut menurut suami dari Ny Nia tersebut lantaran terbatasnya pasokan air kelapa dan terbatasnya tenaga kerja.

“Kami hanya memperkerjakan 30 orang yang dibagi dua kelompok. Kelompok produksi nata de coco lembaran dan nata de coco kotak-kotak (nata de coco yang sudah dipotong-potong), “ jelas Dede.

Selain mengandalkan pasokan air kelapa dari Ciamis dan Pangandaran, kata Dede, pihaknya sekarang terpaksa mendatangkan air kelapa dari luar Ciamis seperti dari Gombong, Majalengka bahkan juga dari Bandung.

“Untuk kebutuhan santan dan kelapa parut untuk Kota Bandung biasa pedagang mendatangkan kelapa dari Ciamis. Dan air kelapanya dibawa kembali ke Ciamis, kami yang menampungnya. Bolak balik,” katanya sembari senyum.

Air kelapa tersebut difermentasi jadi nata de coco berbentuk lembaran, satu lembar nata de coco beratnya 1 kg dan saat ini harganya Rp 1.900/lembar.

Biasanya Dede dengan brand “Naza nata de coco” selama ini hanya memasok kebutuhan nata de coco untuk Cianjur dan Bogor sekitar 10 ton per minggu dengan sistem antar 3 kali seminggu .

"Tetapi sekarang, sudah 3 bulan ini ada permintaan nata de coco dalam jumlah besar yakni 60 ton/minggu (naik 6 kali lipat). Tapi kami hanya bisa penuhi 12 sampai 15 ton perminggu. Semuanya terkendala terbatasnya stok bahan baku berupa air kelapa,” ungkap Dede (andri m dani) 

Penulis: Andri M Dani
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved