Lagi, Ratusan Pencinta Musik Tumplek di Pengadilan Musik yang Hadirkan Rosemary sebagai Terdakwa

Pengadilan Musik edisi 33 yang menghadirkan personel Band Rosemary sebagai terdakwa mampu menjadi daya tarik yang luar biasa bagi ratusan pencintanya

Lagi, Ratusan Pencinta Musik Tumplek di Pengadilan Musik yang Hadirkan Rosemary sebagai Terdakwa
Tribun Jabar/Kemal Setia Permana
Personel Band Rosemary (baju belang-belang kuning hitam) saat menjalani persidangan di Pengadlian Musik edisi 33 yang digelar di Kantinnasion The Panas Dalam, Kota Bandung, Sabtu (29/6/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengadilan Musik edisi 33 yang menghadirkan personel Band Rosemary sebagai terdakwa mampu menjadi daya tarik yang luar biasa bagi ratusan pencinta musik indie, punk rock dan skatepunk untuk hadir dalam persidangannya.

Rosemary yang kini digawangi Indra Gatot (gitar/vocal), Iink (gitar/vocal), Fajar (bass/backing vocal), Denny (drum), dituntut untuk mempertanggungjawabkan album baru mereka di hadapan Jaksa Penuntut Umum yang terdiri dari Budi Dalton dan Pidi Baiq.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh Hakim Man (Jasad) dan Soni Bebek sebagai Panitera, Rosemary menjalani semua cecaran pertanyaan didampingi oleh tim pembela yang terdiri dari Yoga (PHB) dan Ruly Pasar Cikapundung.

Pengadilan Musik yang digelar ATAP Promotions dengan dukungan penuh dari Djarum Cokelat Dot Com ( DCDC) dan selalu dilaksanakan di Kantinnasion The Panas Dalam, Kota Bandung itu seperti biasanya selalu berhasil membuat suasana ramai, seru dan menyegarkan penuh tawa.

Tak ayal, Pengadilan Musik edisi 33 yang digelar Sabtu (29/6/2019) malam itu pun menjadi program khusus DCDC yang selalu ditunggu-tunggu Coklatfriends.

Personel Band Rosemary (baju belang-belang kuning hitam) saat menjalani persidangan di Pengadlian Musik edisi 33 yang digelar di Kantinnasion The Panas Dalam, Kota Bandung, Sabtu (29/6/2019).
Personel Band Rosemary (baju belang-belang kuning hitam) saat menjalani persidangan di Pengadlian Musik edisi 33 yang digelar di Kantinnasion The Panas Dalam, Kota Bandung, Sabtu (29/6/2019). (Tribun Jabar/Kemal Setia Permana)

Di awal persidangan, jaksa Budi Dalton dan Pidi Baiq mencecar band yang disebut-sebut menyebarkan 'virus' skatepunk di Indonesia dengan berbagai alasan, di antaranya adalah penggunaan bahasa Inggris di lagu-lagu mereka.

"Mengapa Anda menggunakan bahasa Inggris di lagu Anda, kenapa tidak bahasa Sunda, misalnya ?" tanya Budi Dalton.

"Karena kami takut kalau menggunakan bahasa Sunda akan terdengar kasar," seloroh salah seorang anggota Rosemary.

Hal itu dibenarkan pembela mereka, Ruly.

Menurut Ruly, dengan tetap nyeleneh, mereka khawatir jika menggunakan bahasa daerah akan jadi salah paham.

Halaman
123
Penulis: Kemal Setia Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved