Terpopuler

Prabowo Kecewa tapi Taat Konstitusi, Sandiaga Sebut Tak Usah Kecil Hati, Andi Arief: Setengah Legowo

Pembacaan putusan sidang sengketa Pilpres 2019 itu dilakukan di Gedung Mahkamah Konstitusi, Kamis (27/6/2019).

Prabowo Kecewa tapi Taat Konstitusi, Sandiaga Sebut Tak Usah Kecil Hati, Andi Arief: Setengah Legowo
Kolase Tribun Jabar (Instagram/@sandiuno/Warta Kota)
Andie Arief sebut Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno setengah legowo. 

"Anas Nasikin menerangkan slide itu untuk menganggetkan agar peserta serius memahami kecurangan sebagai suatu niscaya dalam pemilu. Tapi karena peserta tidak dijadikan dalil oleh pemohon, maka tidak perlu dipertimbangkan oleh Mahkamah," kata Hakim MK Wahiduddin.

Oleh karena itu, hakim MK menyebut, tak terbukti adanya kecurangan pada pelatihan saksi yang digelar TKN Jokowi - Maruf Amin.

Kecurangan yang dimaksud adalah kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif seperti yang didalilkan tim hukum 02 itu tak terbukti.

Paslon 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
Paslon 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. (Instagram/prabowo)

"TSM tidak terbukti dan dalil pemohon tidak beralasan menurut hukum," kata Hakim MK Wahiduddin, pada sidang putusan MK.

Hingga berita ini ditulis, sidang putusan MK masih berlanjut.

Profil Enny Nurbaningsih, Perempuan Hakim MK Satu-satunya, Srikandi Hukum yang Tak Bisa Diremehkan

Moeldoko Sempat Ikut Beralasan

Pada sidang sengketa Pilpres 2019, Selasa Rabu, (19/6/2019) Hairul Anas Suadi pun melontarkan kesaksian mengejutkan.

Ia mengaku, pernah mendapatkan materi dari Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Moeldoko disebut menyampaikan materi bahwa kecurangan itu bagian dari demokrasi.

Hal ini membuat Moeldoko pun bereaksi.

Ia menepis tudingan bahwa dia mewajarkan kecurangan dalam demokrasi.

Moeldoko saat menjawab pertanyaan Tribun Jabar, di Jalan Pajajaran Nomor 156, Kota Bandung, Kamis (20/6/2019).
Moeldoko saat menjawab pertanyaan Tribun Jabar, di Jalan Pajajaran Nomor 156, Kota Bandung, Kamis (20/6/2019). (Tribunjabar.id/Ery Chandra)

Menurutnya, materi yang disampaikan itu konteksnya untuk mewanti-wanti agar berhati-hati.

Kehati-hatian yang dimaksud terkait sistem demokrasi untuk Pilpres 2019.

Hal ini disampaikan Moeldoko kepada para saksi TKN Jokowi - Maruf Amin.

"Saya mengingatkan kepada saksi hati-hati dalam sebuah demokrasi yang mengutamakan kebebasan, maka kecurangan sangat mungkin terjadi," ujar Moeldoko dikutip dari Kompas TV.

Pada video berita TV One, Moeldoko pun mengulangi ucapannya terkait hal itu.

"Dalam sebuah demokrasi yang menekankan kebebasan itu apa saja bisa terjadi, termasuk kecurangan,

untuk itu kalian para saksi harus bekerja sungguh-sungguh

berikutnya kalian harus militan, jangan banyak meninggalkan tempat,

bahkan yang pakai kaca mata supaya maju ke depan

agar sungguh-sungguh memahami apa yang sedang dikerjakan oleh para penghitung suara," ujarnya mengulangi ucapannya yang disampaikan ke para saksi TKN Jokowi - Maruf Amin.

Kemudian, Moeldoko menyebut, konteks ucapannya itu bukan mewajarkan kecurangan.

Ia mengaku, hanya menekankan agar para saksi tetap waspada pada potensi kecurangan di Pilpres 2019.

"Saya tidak pernah mengajarkan untuk berbuat curang, enggak ada. Yang saya tekankan adalah bagaimana harus waspada, mencermati situasi siapa tahu nanti terjadi," kata Moeldoko.

Kepala Staf Kepresidenan itu menegaskan ucapannya jangan samai dipelintir.

"Itu lah konteksnya seperti itu jadi jangan salah, jangan dibalik-balik," ujarnya.

Editor: Fidya Alifa Puspafirdausi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved