Petani Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Antisipasi Bencana Kekeringan

Petani di wilayah Kabupaten Bandung bagian timur mengharapkan adanya bantuan pompa air untuk mengaliri lahan persawahan

Petani Harapkan Bantuan Pompa Air untuk Antisipasi Bencana Kekeringan
Tribun Jabar/ Hakim Baihaqi
Lahan sawah kering di Desa Ciluluk, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Petani di wilayah Kabupaten Bandung bagian timur mengharapkan adanya bantuan pompa air untuk mengaliri lahan persawahan dari pemerintah setempat, untuk mencegah gagal panen akibat bencana kekeringan.

Nana (60), petani asal Desa Cikuya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, mengaku, kerap mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air selama musim kemarau untuk lahan sawah yang ia garap.

Ia mengaku, untuk mendapatkan air bersih, ia bersama sejumlah petani lainnya, mengaku menggunakan air dari saluran drainase yang melintang di Desa Cikuya, namun bergantian agar semua teraliri air.

"Air dari selokan (drainase), satu-satunya yang masih bisa digunakan, selama musim kemarau. Kadang-kadang bau kecampur limbah," kata Nana di Jalan Majalaya-Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kamis (20/6/2019).

Nana mengatakan, kalau ia mengharapkan adanya bantuan pompa untuk dari Sungai Cibodas yang berjarak 300 meter dari area sawah, sehingga seluruh sawah dapat teraliri air.

"Kalau ada pompa, tidak takut gagal panen lagi," katanya.

Petani lainnya, Jumadi (58), mengatakan, kalau ia tidak memiliki pompa air, sehingga terpaksa memanfaatkan aliran dari drainase, ia pun mengaku beberapa kali mengajukan kepada pemerintah setempat.

"Waktu itu pernah ada punya kelompok, tapi tidak tahu kemana. Berharap pemerintah masih baik," katanya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Distan Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania, bagi wilayah-wilayah yang memerlukan bantuan air pihaknya akan membantu dengan melihat sumber mata air di sekitar lahan tersebut untuk dipompa.

Kalau pun tidak memiliki pompa, pihak Distan Kabupaten Bandung akan memberikan bantuan pinjaman alat pompa secara gratis di Distan.

"Tahun ini diprediksi kemarau tidak akan terlalu panjang seperti tahun lalu. Puncak kemarau diperkirakan di Juli-Agustus dan berakhir di September. Mudah-mudahan tidak ada yang sampai mengalami fuso seperti tahun lalu," katanya.

Ina mengimbau kepada para petani, pada saat memasuki kemarau ini untuk tidak memaksakan menanam padi karena sumber air mulai terbatas di beberapa wilayah, petani diminta mengalihkan komoditas tanaman sementara waktu.

"Kalau ada sumber airnya tapi terbatas lahan harus tetap diolah, silakan misalnya untuk tanaman palawija atau komoditas hortikultura dataran rendah seperti cosin dan timun. Di samping umurnya pendek palawija tidak perlu membutuhkan banyak air," katanya.

Mengenal Brother in Arms, Program Independen yang Mewadahi Even 50 Komunitas Motor di Bandung

Ini Jawaban Humas Polda Metro Jaya soal Dugaan Keterlibatan Oknum Polisi dalam Kasus Novel Baswedan

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved