Sengketa Pilpres 2019

Kata Moeldoko Mengenai Tuduhan Ucapan Kecurangan Bagian dari Demokrasi

Moeldoko menjelaskan pembekalan yang disampaikan dirinya lebih pada konteks untuk mengingatkan agar para saksi lebih waspada dalam melihat situasi.

Kata Moeldoko Mengenai Tuduhan Ucapan Kecurangan Bagian dari Demokrasi
Tribunjabar.id/Ery Chandra
Moeldoko saat menjawab pertanyaan Tribun Jabar, di Jalan Pajajaran Nomor 156, Kota Bandung, Kamis (20/6/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Theresia Felisiani

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, Moeldoko angkat bicara soal kesaksian Hairul Anas Suaidi di persidangan sengketa Pilpres 2019 yang digelar di Mahkamah Konstitusi (MK).

Dalam keterangannya, Hairul Anas yang juga keponakan dari Mahfud MD ini mengungkapkan pernah mendapat materi dari Moeldoko yang menyatakan kecurangan bagian dari demokrasi.

Atas hal itu, Moeldoko menjelaskan pembekalan yang disampaikan dirinya lebih pada konteks untuk mengingatkan agar para saksi lebih waspada dalam melihat situasi.

"Konteksnya adalah saya selaku (wakil ketua) TKN memberikan pembekalan kepada para saksi. Intinya supaya para saksi lebih waspada, lebih hati-hati," ungkap Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Moeldoko yang juga Kepala Staf Kepresidenan itu menuturkan, ketika memberi pembekalan, dirinya menyampaikan dalam sebuah demokrasi yang mengedepankan kebebasan, apa saja bisa terjadi termasuk kecurangan.

Sehingga dia mengingatkan para saksi Jokowi-Ma'ruf Amin agar bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak meninggalkan TPS.

"Jadi ceritanya dalam sebuah demokrasi yang mengedepankan kebebasan, apa saja bisa terjadi. Termasuk juga kecurangan, bisa terjadi. Untuk itu kalian para saksi harus bekerja sungguh-sungguh, berikutnya kalian harus militan," kata Moeldoko.

"Jangan banyak meninggalkan tempat, bahkan yang pakai kacamata saya tegaskan, kalian yang menggunakan kaca mata maju ke depan agar sungguh sungguh memahami apa yang dikerjakan oleh para penghitung suara itu," imbuhnya lagi.

Menurut Moeldoko, kesaksian Hairul Anas yang mengatakan bahwa kecurangan bagian dari demokrasi adalah "ngawur".

Sebab dirinya tak pernah sama sekali mengajarkan kecurangan kepada saksi-saksi Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Itu lah, konteksnya seperti itu. Jadi tidak ada saya mengajarkan mereka untuk berlaku curang. Dalam sebuah demokrasi kecurangan adalah hal yang wajar, itu sebuah pelintiran yang ngawur," tambah matan Panglima TNI itu.

Halaman
1234
Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved