Begini Pentingnya Melatih Imajinasi Anak Sejak Usia Dini

Anak-anak selalu memiliki dunia yang di luar batas imajinasi orang dewasa. Imajinasi yang luas yang diungkapkan lewat ekspresi begitu polos, bisa dil

Begini Pentingnya Melatih Imajinasi Anak Sejak Usia Dini
Tribun Jabar/Putri Puspita
Wenda Zidah bersama anak-anak di sekolah Semi Palar 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anak-anak selalu memiliki dunia yang di luar batas imajinasi orang dewasa.

Imajinasi yang luas yang diungkapkan lewat ekspresi begitu polos, bisa dilihat dari wajah mereka yang menyenangkan.

Imajinasi anak muncul mulai dari pemikiran kreatif yang menghasilkan tindakan kreatif.

Banyak orang dewasa yang berharap bisa kembali menjadi anak-anak karena merasa dunianya semakin realistis.

Untuk bernostalgia akan masa kecilnya dan mengasah imajinasi, Wenda Zidah (27), bergabung menjadi fasilitator anak di Sekolah Semi Palar.

Wenda mengatakan ketertarikannya akan dunai anak-anak membuatnya peduli akan pendidikan anak-anak yang mestinya harus dirubah.

"Aku percaya untuk membangun mental seorang anak itu dimulai sejak taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Ketika manusia di-treatment sejak kecil maka mental akan terbentuk yang nantinya akan membangun empati mereka di masa depan," ujar Wenda saat ditemui di Sekolah Semi Palar, Jalan Sukamulya No 77-79, Sukagalih, Sukajadi, Jumat (14/6/2019).

Catatan Liestiadi Terhadap Pemain Seleksi Persib B, Pemain-pemain Ini yang Paling Menonjol

Wenda menjelaskan, ketika TK banyak anak yang akan menjawab akan menjadi dokter atau guru ketika ditanya soal cita-citanya.

Padahal menurutnya, banyak profesi lain yang akan berkembang ketika mereka sudah dewasa. Hal seperti ini seharusnya sudah menjadi perhatian bagi para orang tua dan pendidik.

"Bagaimana cara manusia bisa bersosialisai dengan manusia lainnya maupun bagaimana manusia berhubungan dengan alam. Hal ini harus dibangun sejak dini untuk membangun empati anak," ujarnya.

Wanita yang aktif di sekolah alam ini mengatakan, imajinasi anak sebaiknya tidak dikunci atau disamaratakan.

"Misalnya saja ketika menggambar itu tak melulu soal gunung, matahari, dan sawah. Hal seperti itu justru tidak baik, mereka bisa berimajinasi lebih dari itu," ujarnya.

Bisa berhadapan dengan anak-anak di dunia yang menyenangkan, menurut Wenda, bisa membuatnya merasakan energi dan dunia yang sebelumnya tidak bisa Ia gapai kembali.

Serunya Belajar Baca dan Tulis, Murid Kelas 1 SD Luncurkan Buku Karya Bersama

4 Hari Lagi Pendaftaran PPDB SMA Dibuka, Lengkapi Tiga Persyaratan Ini

Penulis: Putri Puspita Nilawati
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved