Kades di KBB Ini Korupsi Dana Desa Rp 320 Juta, Dipakai untuk 'Nyalon' Lagi hingga Kawin Lagi

Endang Senjaya merupakan kepala desa satu periode. Pada periode kedua, ia mencalonkan lagi. Biayanya menggunakan dana desa secara melawan hukum.

Kades di KBB Ini Korupsi Dana Desa Rp 320 Juta, Dipakai untuk 'Nyalon' Lagi hingga Kawin Lagi
Tribun Jabar/ Mega Nugraha
Sidang dakwaan kasus korupsi dana desa di Pengadilan‎ Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung, Rabu (12/6/2019) 

Dana itu dianggarkan untuk pembangunan jalan rabat beton di lima ruas jalan di desa itu senilai Rp 361 juta lebih.

Kemudian, dianggarkan untuk fasilitas dan motivasi kelompok belajar desa senilai Rp 43 juta lebih seperti pemasangan kanopi PAUD, pemeliharaan PAUD Asalafiah dan pemeliharaan TK Raudlatul Athfall Al Asya'ry.

Ketiga, dana desa dianggarkan juga untuk honorarium TKPD dan biaya makan minum rapat pada pelaksanaan kegiatan bidang pembangunan desa senilai Rp 38 juta lebih.

"Tapi terdakwa mengkorupsi dana untuk tiga kegiatan itu hingga APBD Bandung Barat 2016 dirugikan senilai Rp 320 juta," ujar jaksa Aep Saefullah‎.

Dengan rincian kerugian negara misalnya, uang untuk pembangunan jalan rabat beton di lima ruas jalan‎ di desa itu, terdakwa mengkorupsinya hingga Rp 241.439.250 dengan cara mengurangi volume beton.

Dana untuk PAUD Al Falah, TK Raudlatul Alfal masing-masing hanya menerima Rp 1,5 juta dan Paud Asalafiyah malah sama sekali tidak menerima.

Sisanya, Rp 40.802.500 digunakan sendiri oleh terdakwa. Kemudian dana untuk honorarium dan makan minum dikorupsi senilai Rp 38.231.000.

Banyak Tanaman Mangrove Mati di Perairan Kabupaten Indramayu Ini, Ternyata Gara-gara Kambing

"Sehingga ditotalkan, kerugian neg‎ara berdasarkan audit Inspektorat Pemkab Bandung Barat yakni senilai Rp 320.472.750," ujar jaksa Fauzi Sanjaya.

Lantas, bagaimana cara Endang Senjaya mengk‎orupsi dana desa bersumber dari APBD itu, kata jaksa Aep, saat terdakwa bersama Bendahara Desa Dana Miharja mencairkan dana desa itu ke Bank BJB, terdakwa tidak menyerahkan seluruh total uang itu ke bendahara.

"Tapi uang setelah dicairkan disimpan sendiri, melainkan dikuasai, disimpan dan dibelanjakan untuk kepentingan sendiri. Padahal seharusnya dana desa setelah dicairkan, disimpan di bendahara," ujar dia.

Halaman
123
Penulis: Mega Nugraha
Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved