Menteri Mohamad Nasir: Muslim Sejati adalah Orang yang Selalu Menebar Kasih Sayang

Dalam khotbah iu, Mohamad Nasir mengingatkan bahwa kekerasan, anarkisme, menebar ketakutan, dan menebar teror bukan bagian dari ajaran Islam.

Menteri Mohamad Nasir: Muslim Sejati adalah Orang yang Selalu Menebar Kasih Sayang
Tribun Jabar/Yongky Yulius
Ribuan warga mengikuti Salat Iduladha di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (22/8/2018). 

TRIBUNJABAR.ID, SEMARANG- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir memberi khotbah salat IduLfitri 1440 Hijriah di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Rabu (5/6/2019)

Dalam khotbah iu, Mohamad Nasir mengingatkan bahwa kekerasan, anarkisme, menebar ketakutan, dan menebar teror bukan bagian dari ajaran Islam.

Umat Muslim, kata dia, semestinya juga selalu hati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat sehingga tidak menyakiti, melukai, serta menciderai hati dan fisik orang lain.

"Muslim sejati adalah orang yang selalu menebar kasih sayang," kata Mohamad Nasir seperti dikutip Antara.

Nasir mengajak umat Muslim untuk meneladani Nabi Muhammad SAW yang memiliki kepribadian memesona, akhlak luhur dan mulia yang menjadi salah satu faktor kesuksesan dakwahnya.

"Semua orang merasa senang dan damai berada di sisi-Nya atau di majelis-Nya. Beliau adalah penebar kasih sayang dan kedamaian," katanya.

Salat Idulfitri, Ridwan Kamil: Saya Titip Jabar seperti Pagi Ini, Damai di Hati & Sejuk di Pikiran

Wali Kota Bandung Gelar Open House di Pendopo, Oded Sambut Tokoh Lintas Agama

Pluralitas, kata dia, harus diterima karena Allah SWT sengaja menciptakan keberagaman agar manusia saling menghormati dan menghargai, dan inklusivitas menjadi keharusan.

Seraya mengutip Alquran Surat Al Hujurat: 13, Nasir menyebutkan bahwa menjadi Muslim yang seutuhnya maka secara aksiomatis juga menjadi seorang nasionalis dan pluralis seutuhnya.

Kebhinnekaan Indonesia, lanjut dia, merupakan keajaiban dunia yang selama ini telah dirawat dengan susah payah sehingga tidak sepatutnya dikoyak-koyak oleh kekerasan verbal dan tindakan radikal atau anarkistis.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang itu menyebutkan setidaknya ada enam prinsip yang selalu diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya untuk membangun Islam yang rahmatan lil alamin.

Halaman
12
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved