Penyakit Kulit yang Menyerang Warga Cianjur Ternyata Bukan Cacar Monyet Melainkan Scabies

Penyebaran penyakit kulit tersebut, katanya, diduga menyebar melalui air yang digunakan untuk mandi, mencuci dan memasak, oleh penduduk sekitar.

Penyakit Kulit yang Menyerang Warga Cianjur Ternyata Bukan Cacar Monyet Melainkan Scabies
The Straits Times
Cara cegah cacar monyet atau monkeypox yang dilakukan Pelabuhan di Tanjungpinang, Batam, dan Riau. Kenali gejalanya dan cara pencegahan agar tak tertu 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Berli Hamdani menyatakan penyakit kulit yang menyerang sejumlah warga Kampung Riung Saung, Desa Neglasari, Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur, bukanlah cacar monyet atau monkey pox seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.

Berli mengatakan dari hasil investigasi dan penyelidikan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur dan Puskesmas Cidaun pada Selasa, 4 Juni 2019, disimpulkan bahwa para penderita ini bukanlah terserang penyakit cacar monyet seperti yang diisukan.

"Isu tentang kasus Monkey Pox itu adalah tidak benar, dan kami menyatakan bahwa kasus yang ditemukan di sekitar lokasi tersebut yang dibuktikan dengan penemuan tujuh orang itu, kasusnya penderita penyakit Scabies," kata Berli melalui pesan ponsel, Selasa (4/6).

Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur dan Puskesmas Cidaun, katanya, telah melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi, berangkat Senin (3/6) dan sampai di lokasi Selasa (4/6), akibat lokasi yang cukup di pelosok.

Berdasarkan hasil wawancara dengan keluarga dan penderita, katanya, kasus tersebut menimpa pada sebagian besar anak-anak yang merupakan siswa dari sebuah Pondok Pesantren Assofa yang terdapat di wilayah tersebut.

Penderita mengalami gejala yang sama.

Sebelumnya sebagian penderita pernah berobat ke petugas kesehatan setempat, sebagian sudah kembali sembuh dan sebagian lagi sudah sembuh tetapi kambuh lagi, termasuk penderita yang bernama Wijaya Kusumah yang pernah sembuh tetapi kambuh lagi sejak 1,5 bulan lalu.

Dari hasil investigasi ditemukan penderita sebanyak tujuh orang, yaitu Ayu (​8), Dimas (5), Ida (​6), Rosika​ (2), Perdi​ (12), Neng Syifa (​14), dan Wijaya Kusumah (​8). Dari tujuh penderita, enam orang merupakan santri di Pondok Pesantren Assofa, dengan jumlah santri seluruhnya sekitar 60 orang.

Penyebaran penyakit kulit tersebut, katanya, diduga menyebar melalui air yang digunakan untuk mandi, mencuci dan memasak oleh penduduk sekitar.

Air tersebut mengalir dari parit yang masuk ke sawah dan ditampung dalam sebuah bak kecil alami, bukan buatan dari semen atau penampung khusus.

"Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur bersama Tim Puskesmas Dengan Rawat Inap Cidaun sudah melakukan upaya-upaya sebagai investigasi terhadap penderita di lokasi kejadian, pencarian kasus tambahan, serta pemeriksaan dan pengobatan," katanya.

Rencananya segera dilakukan penyuluhan tentang penyakit kulit dan penanganannya serta perilaku hidup bersih dan sehat. Pemantauan secara terus menerus pun akan dilakukan oleh Puskesmas.

Penyakit scabies ini terjadi disebabkan oleh karena personal hygine penduduk sekitar yang kurang baik, dan disebabkan oleh penggunaan air untuk mandi, mencuci, dan memasak yang bersumber dari air sawah. Selain itu seluruh penderita baik yang masih sakit ataupun yang sudah sembuh sebagian besar adalah para santri dari sebuah pondok pesantren yg berada di wilayah tersebut.

"Imbauan saya adalah supaya masyarakat tidak mudah terprovokasi dan supaya masyarakat lebih membiasakan Budaya hidup bersih dan sehat dalam kesehariannya," kata Berli. (Sam)

Penulis: Ferri Amiril Mukminin
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved