Perajin Logam di Cibatu Sukabumi Coba Bertahan dari Gempuran Produk China

Namun akhir-akhir ini perajin mulai kewalahan karena pasar mulai diserbu dengan produk-produk buatan China.

Perajin Logam di Cibatu Sukabumi Coba Bertahan dari Gempuran Produk China
tribunnews.com
Pengunjung sedang melihat produk senjata tajam di Toko PD Siliwangi di Pasar Cibatu, Sukabumi 

TRIBUNNEWS.COM -- Cibatu Sukabumi dikenal sebagai sentra perajin logam terutama senjata tajam atau empu yang sangat dikenal di tataran Jawa Barat, bahkan nasional.

Bagaimana tidak, beberapa senjata tajam seperti golok, samurai, alat pertanian bahkan mungkin borgol yang kita temui di daerah lain adalah buatan Cibatu.

Hingga kini daerah tersebut masih menjadi sentra perajin senjata tajam yang dikenal masyarakat.

Namun akhir-akhir ini perajin mulai kewalahan karena pasar mulai diserbu dengan produk-produk buatan China.

Salah satu pemilik produsen senjata tajam yaitu PD Siliwangi, H Enjon Hasanuddin (40) mengatakan, produk-produk asal China berharga sangat murah sehingga lebih disukai konsumen.

Update Kerusuhan di Rutan Kelas II Sigli, Gara-gara Dispenser Diambil Petugas

Pelajar SMA di Cipayung Ketahuan Curi BH Tetangga, Ternyata Ini Motifnya

Ular Piton Kembali Menyerang Manusia, Satu Dililit dan Digigit Hingga Tewas, Beruntung Tidak Ditelan

"Sebagai contoh pisau atau sangkur produk China bisa dihargai Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. Padahal di Cibatu harganya Rp 100 ribu," kata Enjon.

Menghadapi persaingan itu, jelas Enjon, modal mutlak dibutuhkan agar bisa memproduksi senjata tajam lokal secara massal hingga harganya bisa miring.

"Kalau produksinya sedikit memang harganya bisa mahal, jadi mesti punya duit banyak," ujarnya.

Enjon Hasanuddin
Enjon Hasanuddin, pemilik PD Siliwangi

Sebagai contoh, jelasnya, sangkur bila diproduksi dalam jumlah sedikit, harganya bisa sampai Rp 100 ribu, tapi kalau banyak bisa ditekan hingga Rp 60.000.

Untuk menambah modal itulah, Enjon dan orangtuanya, Endin, sudah lima tahun bermitra dengan BNI agar bisa memproduksi senjata tajam yang bersaing di pasar.

"Alhamdulillah sekarang bagi kami persaingan cukup sehat. Kami bisa memproduksi senjata tajam dan diterima di pasar," jelas Enjon.

Meskipun harga produk China lebih murah, jelasnya, namun produk lokal buatan Enjon cukup disukai warga karena memiliki kualitas dan ciri khusus. Bahan bakunya dari plat baja sehingga sangat kuat.

Enjon menjelaskan, saat ini omset produksi kerajinan logamnya tetap bertahan dan mempekerjakan sejumlah pekerja. Omsetnya pun lumayan yaitu sebesar Rp 50 juta. "Yang penting semua lancar," ujarnya.

perajin borgol
Seorang pekerja sedang membuat borgol

Menurutnya, tadinya keluarganya kesulitan bersaing, namun setelah mendapat suntikan dana kini usaha yang dirintis oleh sang kakek itu kembali meningkat.

"Lima tahun lalu kredit Rp 50 juta, sekarang pinjam 200 juta pun dikasih oleh BNI," ujarnya.

Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved