Fadli Zon Sebut Eggi Sudjana Fobia Ruang Sempit, Benarkah? Ini Kata Psikiater

Tersangka kasus dugaan makar Eggi Sudjana, disebut memiliki fobia atau ketakutan berada di ruang sempit.

Fadli Zon Sebut Eggi Sudjana Fobia Ruang Sempit, Benarkah? Ini Kata Psikiater
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda
Kivlan Zen bersama Eggi Sudjana di sela-sela aksi di kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019) 

TRIBUNJABAR.ID – Tersangka kasus dugaan makar Eggi Sudjana, disebut memiliki fobia atau ketakutan berada di ruang sempit.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon saat menjenguk Eggi Sudjana, Rabu (29/5/2019).

Dikutip dari Kompas.com, Rabu (29/5/2019) Fadli Zon mengatakan, sel Eggi Sudjana berukuran) 3 x 1 meter dan Eggi Sudjana memiliki berbagai riwayat penyakit.

Ia juga mengatakan bahwa fobia yang dialami Eggi Sudjana bisa menyebabkannya mengalami halusinasi.

Klaim tersebut belakangan dibantah oleh Direktur Tahanan dan Barang Bukti (Dir Tahti) Polda Metro Jaya, AKBP Barnabas, yang menyebut bahwa Eggi Sudjana bukan menderita fobia tempat sempit, tetapi hanya kesulitan menyesuaikan diri secara psikologis dengan rutan.

Isi Surat Penyidikan Prabowo Terlapor Dugaan Makar, Eggi Sudjana yang Beri Keterangan ke Polisi

Kompas.com menghubungi dr Dharmawan Ardi Purnama, SpKJ, Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, via telepon pada Rabu (29/5/2019) untuk meminta pendapatnya.

Dharmawan menyampaikan bahwa fobia tempat sempit atau klaustrofobia termasuk dalam golongan fobia spesifik.

Seseorang yang memiliki kondisi ini bisa merasa ketakutan hingga mengalami serangan panik (panic attack) seperti jantung berdebar-debar dan sesak napas ketika berada di dalam tempat sempit, seperti lift atau toilet pesawat.

Akibatnya, orang-orang dengan fobia ini biasanya menghindari pencetus fobianya dengan luar biasa sampai lari ketakutan dan berteriak-teriak.

Seperti fobia pada umumnya, penyebab klaustrofobia sangat beragam.

Ada yang karena proses belajar di mana orang tersebut pernah mendapatkan pengalaman yang negatif ketika berada di ruang sempit sehingga trauma, dan ada juga yang karena genetik.

“Fobia itu kan bagian dari kecemasan. Jadi orang yang pencemas itu bisa jadi ada bakat bawaan,” ujar Dharmawan.

Terkait Eggi Sudjana, Dharmawan menyebut bahwa apa yang dialami oleh tersangka kasus dugaan makar itu bukan klaustrofobia.

“Ya enggak lah. (Ruangan) 3 x 1,5 meter itu (setara) ruang praktek dokter umum di samping pos hansip,” katanya.

Kalaupun memang benar diduga fobia, dibutuhkan pemenuhan kriteria-kriteria, seperti yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) atau Pedoman Praktis Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) 3, untuk mendiagnosis Eggi Sudjana demikian.

“Ada tidak penghindaran yang hebat? Kalau tidak ada ya namanya perasaan tidak nyaman biasa bukan fobia. (Sebab) fobia itu ada kriterianya,” jelas Dharmawan.

Jika Eggi tidak memenuhi kriteria-kriteria dalam DSM-5 atau PPDGJ 3, maka dia tidak bisa didiagnosis memiliki fobia meskipun merasa tidak nyaman selama berbulan-bulan.

Amien Rais Sudah di Kantor Polisi, Banyak Diam, Diperksai Kasus Dugaan Makar Eggi Sudjana

Berikut adalah tujuh kriteria diagnosis fobia spesifik yang tercantum dalam DSM-5:

1. Ketakutan berlebihan dan tidak masuk akal yang berlangsung terus menerus, biasanya terjadi ketika mendapati atau mengantisipasi obyek atau situasi tertentu yang menjadi pencetus fobianya.

2. Paparan terhadap pencetus fobia hampir selalu menyebabkan respons kecemasan mendadak, yang kemudian bisa menjadi panic attack. Pada anak-anak, kecemasan mungkin ditunjukkan dengan menangis, mengamuk, kedinginan atau melekat erat.

3. Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya berlebihan atau tidak sesuai proporsi ancaman yang sebenarnya. Pada anak-anak, fitur ini mungkin tidak ada.

19 Bocah di Garut Lakukan Seks Sesama Jenis, Mengapa Bisa Terjadi? Ini Fakta dan Penjelasan Psikolog

4. Situasi yang mencetuskan fobia dihindari atau ditanggung dengan kecemasan intens atau kesengsaraan.

5. Penghindaran, antisipasi dengan kecemasan atau kesengsaraan ketika mengalami situasi yang ditakutkan secara signifikan menganggu rutinitas normal orang tersebut, aktivitas sosial atau hubungannya, atau ada kesulitan besar yang dialami karena memiliki fobia tersebut.

6. Ketakutan bersifat terus menerus, biasanya berlangsung lebih dari enam bulan.

7. Kecemasan, panic attack atau penghindaran yang diasosiasikan dengan obyek atau situasi spesifik tersebut tidak disebabkan oleh gangguan mental lainnya, seperti gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stres pasca-trauma, fobia sosial, gangguan panik dan lainnya. (Kompas.com/Shierine Wangsa Wibawa)

Psikolog Ungkap Cara Efektif Mendidik Anak Berkomunikasi Secara Efektif

Amien Rais Diperiksa sebagai Saksi Kasus Dugaan Makar Eggi Sudjana di Mapolda Metro Jaya, Besok

Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved