WNI Gugat Perusahaan di Jepang Setelah Memecatnya Karena Tidak Bisa Bahasa Jepang

Seorang warga negara Indonesia menggugat perusahaan tempatnya bekerja sebagai pegawai kontrak di bawah program magang di Jepang.

WNI Gugat Perusahaan di Jepang Setelah Memecatnya Karena Tidak Bisa Bahasa Jepang
TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi pekerja di Jepang

TRIBUNJABAR.ID, HIROSHIMA - Seorang warga negara Indonesia menggugat perusahaan tempatnya bekerja sebagai pegawai kontrak di bawah program magang di Jepang.

Pada Kamis (23/5/2019), Ricky Amrullah berupaya mencari kompensasi dari perusahaan perikanan dan koperasi yang memecatnya karena kurangnya kemampuan berbahasa Jepang.

Diwartakan Japan Today, pria berusia 26 tahun itu mengajukan gugatan di Pengadilan Distrik Hiroshima untuk meminta perusahaan Chua International Cooperative and Maruko membayar kompensasi senilai 7,05 juta yen atau Rp 930 juta.

Dalam pengaduannya disebutkan, Ricky datang ke Jepang pada Januari 2018 untuk bekerja di sebuah tambak ikan di kota Higashihiroshima.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe Beri Ucapan Selamat kepada Jokowi Juara Pilpres 2019

Dia juga berpartisipasi dalam studi program bahasa Jepang yang ditawarkan koperasi. Ricky menandatangani kontrak kerja selama tiga tahun dengan Maruko pada Februari lalu.

Namun koperasi memulangkannya karena ketidakmampuan berbahasa Jepang, bahkan sebelum dia memulai studi bahasa itu.

Pria itu mengklaim dipaksa meninggalkan Jepang meski berniat melanjutkan studi bahasanya. Kini, Ricky mencari kompensasi untuk upah tiga tahun dan tekanan psikologis yang dia alami.

Setelah mengajukan gugatan ke pengadilan distrik, Ricky menggelar konferensi pers.

Dia merasa dicurangi oleh koperasi dan menjadi tertekan karena masih ingin bekerja di Jepang.

Sementara koperasi menyatakan, klaimnya tidak sejalan dengan fakta yang ada.

Ricky juga mencari ganti rugi dari perusahan perikanan yang menyetujui pemecatannya.

Program pelatiihan semacam itu diluncurkan oleh pemerintah Jepang pada 1993 untuk program transfer keterampilan bagi negara berkembang.

Meski demikian, program tersebut juga dikritik karena menjadi alat bagi perusahaan Jepang mempekerjakan buruh asing dengan upah murah. (Kompas.com/Veronika Yasinta)

Ingin Masuk Penjara Lagi, Pria di Jepang Sengaja Benturkan Kepala Tunawisma

Hasil Penelitian Tim Jepang, Gempa Dahsyat Magnitude 8,9 Intai Mentawai dan Bengkulu, Ini Kata BMKG

Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved