Lapangan Pekerjaan Manufaktur di Korea Selatan Diminati Warga Asing, Termasuk Indonesia

Human Resources Development Service of Korea Choi Jhong Yun: banyak perusahaan di Korea Selatan yang membutuhkan pekerja manufaktur dari negara asing

Lapangan Pekerjaan Manufaktur di Korea Selatan Diminati Warga Asing, Termasuk Indonesia
koreaboo.com
Korea Selatan (2017). 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Human Resources Development Service of Korea Choi Jhong Yun, menyebutkan, banyak perusahaan di Korea Selatan yang membutuhkan pekerja manufaktur dari negara asing.

Di Korea Selatan, kata Choi Jhong Yun, sebagian besar warga negara merupakan lulusan pendidikan tinggi, sehingga peminat untuk bekerja diindustri manufaktur jumlahnya sangat sedikit.

"Membutuhkan negara asing untuk mengisi pekerjaan tersebut. Tercatat ada 16 negara dan Indonesia berada di peringkat kedua," Kata Choi Jhong Yun saat ditemu di Kampus Ikopin Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Rabu (23/5/2019).

Ia mengatakan, para pekerja asing dari 16 negara tersebut, akan bekerja di perusahaan diskala kecil hingga menengah dan akan mendapatkan upah minimum di Korea Selatan yakni minimal Rp 21 juta per bulannya.

Choi Jhong Yun menambahkan, jaminan kerja yang akan didapatkan, jaminan tempat tinggal selama masa kontrak, makan sebanyak tiga kali dalam satu hari, dan asuransi kesehatan serta kecelakaan kerja.

"Kunci kerjasama ini terus terjalin yaitu karena komunikasi yang baik. Di Korea pun menerapkan sebagian kecil kebiasaan orang Indonesia, salah satunya tidak menyediakan daging babi sebagai makanan," katanya.

BNP2TKI Akui Banyak Keuntungan dari Kerja Sama Antara Korea Selatan dengan Indonesia

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menggandeng, Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) untuk kedua kalinya terkait program penempatan government to government bagi pekerja migran Indonesia (PMI) ke Korea Selatan.

Proses rekrutmen tersebut merupakan hasil dari MoU antara Kementrian Tenaga Kerja Republik Korea (MOEL) serta BNP2TKI, dan para calon PMI harus melakukan sejumlah rangkaian tes.

BNP2TKI menggandeng Ikopin melaksanakan program penempatan government to government bagi pekerja migran Indonesia (PMI) ke Korea Selatan.
BNP2TKI menggandeng Ikopin melaksanakan program penempatan government to government bagi pekerja migran Indonesia (PMI) ke Korea Selatan. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Rangkaian tes terbagi atas tiga tahapan, yaitu tahap verifikasi dokumen peserta pada bulan Maret 2019, pelaksanaan ujian bahasa Korea dilaksanakan pada bulan April 2019, dan yang lulus mengikuti yaitu Ujian kemampuan pada 22-23 Mei 2019.

Arini mengatakan, penempatan PMI di Korea Selatan, sudah berlangsung sejak 2004 dan sejak 2017 hingga saat jumlah kuota bagi PMI semakin mengalami peningkatan setiap tahunnya.

BNP2TKI Gandeng Ikopin Untuk Rekrutmen Tenaga Kerja ke Korea Selatan

Pada 2017, kuota bagi PMI sebanyak 3.719 orang, sedangkan di 2018 6.921 orang, dan 2019, di Korea Selatan membutuhkan 8.800 orang.

4.900 untuk sektor manufaktur dan 3.900 sektor perikanan.

Data pengiriman uang PMI Korea yang dipantau melalui perbankan mengalami peningkatan sejak dua tahun terakhir, yakni US $ 188.668.448 atau 2.6 Trilyun pada 2017 dan US $ 271.759.303 atau Rp. 3.9 trilyun pada 2018.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved