Keluarga Tolak Autopsi Farhan Syafero yang Jadi Korban Tewas Aksi Massa 22 Mei

Farhan Syafero (30) menjadi satu di antara korban tewas dalam kericuhan aksi massa pada 22 Mei 2019. Keluarga Farhan Syafero menolak tawaran autopsi

Istimewa/Warta Kota
Foto capture almarhum Farhan Syafero. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA- Farhan Syafero (30) menjadi satu di antara korban tewas dalam kericuhan aksi massa pada 22 Mei 2019.

Keluarga Farhan Syafero menolak tawaran autopsi dari RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Alasan penolakan autopsi dari rumah sakit itu disampaikan ayah korban, Syafri Alamsyah (54).

"Awalnya saya kan minta surat kematian ke Cipto (RSCM) tapi katanya harus diautopsi dulu supaya tahu penyebab kematian. Ya, saya menolak karena kepentingannya apa," ujar Syafri kepada Warta Kota di rumah duka, Kampung Rawa Kalong, Jalan Pramuka RT 03/07, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Rabu (22/5/2019).

"Kecuali ada lembaga yang mendampingi saya, yang peduli terhadap nyawa manusia, baru saya bersedia. Apakah Polri, Komnas HAM. Ini enggak ada," kata Syafri.

Ia pun meminta pihak berwenang dapat mengungkap penyebab kematian sang anak sekaligus menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

Respons Kapolri Tito Karnavian Soal 6 Orang Meninggal dalam Aksi Massa 22 Mei

Prabowo Gugat Hasil Pilpres 2019 ke MK, Jokowi Yakin MK Putuskan Berdasarkan Fakta

"Jadi kalau ada yang mau mengungkap, saya bersedia membantu. Harapannya ya diungkap sampai sejelas-jelasnya siapa yang menyebabkan anak saya sampai seperti itu," katanya.

Dikatakannya, pihak RSCM tidak secara tegas mengatakan Farhan tewas akibat tertembak.

Pihak RSCM, lanjut Syafri, hanya berkata bahwa anaknya meninggal dunia secara tidak wajar.

"Cipto sih enggak bilang karena kena peluru, cuma mati tidak wajar katanya tapi itu kelihatan kok bekas tembakan di bawah leher tembus ke belakang. Darahnya aja masih netes," kata Syafri.

Farhan meninggalkan satu istri dan dua anaknya yang masih kecil. Menurut Syafri, anaknya bekerja serabutan di Jakarta, mulai dari sopir hingga penjual kitab-kitab agama. 

"Ya, meskipun meninggalnya seperti ini saya lega, karena selama ini kan dia agamanya kuat dan aktif di pengajian," katanya.

Sebelumnya diberitakan, Farhan tewas saat menjaga rumah Imam Besar FPI, Muhammad Rizieq Shihab alias HRS, dalam aksi demonstrasi di sekitar Gedung Bawaslu RI, Rabu (22/5/2019) dinihari.

Menurut M Syarif Al Idrus, sahabat Farhan, korban yang merupakan anggota Majelis Taklim Nurul Mustofa, tewas dengan luka tembak di dada dan tembus hingga belakang.

Jokowi & Prabowo Sampaikan Hal yang Sama, Mengecam Perusuh Aksi 22 Mei, Ingatkan Persatuan Indonesia

Soal Aksi Penolakan Hasil Pilpres 2019, Prabowo Minta Pendukungnya Hindari Aksi Kekerasan

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved