Ungkap Kasus Teroris Jelang Pengumuman Pemilu 2019, Polri Bantah Politisasi Kasus Terorisme

Polri tidak pernah mempolitisasi kasus terorisme yang belakangan diungkap menjelang pengumuman pemenang Pemilu 2019.

KOMPAS.com/Devina Halim
Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal M Iqbal di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (16/5/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Polri tidak pernah mempolitisasi kasus terorisme yang belakangan diungkap menjelang pengumuman pemenang Pemilu 2019.

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol M Iqbal di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Ia menegaskan, pengungkapan kasus terorisme menjelang pengumuman rekapitulasi suara Pemilu 2019 bukan untuk menakut-nakuti massa yang hendak berdemonstrasi.

"Beberapa hari lalu juga saya merilis ada beberapa penunggang gelap seperti kelompok teror, yang walaupun ada yang menyampaikan bahwa ini adalah politisasi dan lain-lain," ujar Iqbal.

Polisi Hentikan Sekelompok Orang Beratribut FPI yang Diduga Hendak ke Jakarta

"Bahwa Polri tidak pernah berpolitik apalagi dalam menyampaikan fakta-fakta hukum. Kami ada bukti, scientific, tak bisa dibantahkan," ujar Iqbal lagi.

Karena itu ia mengimbau masyarakat tak perlu turun ke jalan untuk berdemonstrasi sebab akan berhadapan dengan ancaman terorisme.

"Perlu kami sampaikan ke publik bahwa Polri mengimbau tak perlu turun ke jalan. Ini ada indikasi-indikasi yang betul-betul dapat kami buktikan. Kami tak ingin masyarakat luas menjadi korban," lanjut dia.

Sepanjang Mei 2019, tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri telah menangkap sebanyak 29 terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

M Iqbal sebelumnya mengatakan, penangkapan pada bulan Mei ini, mencatat angka penangkapan paling banyak.

"Bulan ini yang paling banyak yaitu 29 tersangka," ujar Iqbal saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (17/5/2019).

Iqbal merinci, sebanyak 18 tersangka ditangkap di Jakarta, Bekasi, Karawang, Tegal, Nganjuk, dan Bitung.

Menurut keterangan polisi, ke-18 terduga teroris tersebut diduga telah menyembunyikan tersangka lain, hingga berencana memanfaatkan momen hasil pengumuman rekapitulasi resmi Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei 2019.

"Keterlibatan tersangka kelompok JAD, yaitu menyembunyikan DPO JAD di Lampung, merencanakan aksi amaliyah atau teror dengan menyerang kerumunan massa pada 22 Mei mendatang dengan menggunakan bom," jelas Iqbal. (Kompas.com/Rakhmat Nur Hakim)

HEBOH Seorang Wanita Peserta Aksi Demo di Depan Gedung Bawaslu Nekat Ingin Tembus Barikade Polisi

Prabowo - Sandiaga Uno Gugat Hasil Pilpres 2019 ke MK, Jokowi Apresiasi dan Berpesan Begini

Sumber: Kompas
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved