Ratusan Warga Jabar Peringati 111 Tahun Harkitnas, Aksi Jahit Kain Merah Putih Sepanjang 50 Meter

Ratusan warga dari berbagai wilayah Jawa Barat melakukan aksi jahit kain merah dan putih di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung

Ratusan Warga Jabar Peringati 111 Tahun Harkitnas, Aksi Jahit Kain Merah Putih Sepanjang 50 Meter
Tribun Jabar/Cipta Permana
Para peserta kegiatan peringatan refleksi 111 tahun hari Kebangkitan Nasional melakukan aksi jahit kain merah dan putih sepanjang 50 meter di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Senin (20/5/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ratusan warga dari berbagai wilayah Jawa Barat melakukan aksi jahit kain merah dan putih untuk dijadikan bendera raksasa dengan panjang 50 meter, di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung. Aksi ini dalam rangka memperingati momentum refleksi 111 tahun peringatan hari Kebangkitan Nasional.

Ketua Pelaksana Furqan AMC mengaku, dalam kegiatan ini pihaknya melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti budayawan, seniman, ibu rumah tangga, penggiat PKK, hingga guru lintas generasi.

Ia menambahkan, pada momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini yang juga bertepatan dengan tahun politik ini, selayaknya dijadikan ajang untuk mempersatukan bangsa. Terlebih dalam kegiatan tersebut, selain melibatkan berbagai latar belakang masyarakat, tetapi juga para peserta merupakan kelompok pendukung pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 dan 02.

"Ada dua kain merah dan putih yang semula terpisah, kemudian kita jahit bersama sebagai simbol menyatukan semua hal yang ada di negara ini, dimana terlihat retak ataupun tercerai karena perbedaan pilihan. Maka inilah saatnya momentum yang tepat untuk menyatukan kembali menjadi Indonesia yang utuh," ujarnya ssat ditemui di sela kegiatan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Senin (20/5/2019).

Para peserta kegiatan peringatan refleksi 111 tahun hari Kebangkitan Nasional melakukan aksi jahit kain merah dan putih sepanjang 50 meter di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Senin (20/5/2019).
Para peserta kegiatan peringatan refleksi 111 tahun hari Kebangkitan Nasional melakukan aksi jahit kain merah dan putih sepanjang 50 meter di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Senin (20/5/2019). (Tribun Jabar/Cipta Permana)

Menurutnya, semua pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut, telah menyatakan sepakat, bahwa hajat pesta demokrasi sudah usai, dengan tuntasnya pencoblosan yang digelar pada 17 April lalu. Sehingga saat ini, mereka tinggal menunggu hasil perolehan suara pemenang, yang sepenuhnya diserahkan kepada kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat.

"Nanti sama-sama kita tunggu hasilnya. Kita tidak lagi bicara siapa yang menang siapa yang kalah. Karena siapun sosoknya nanti, yang menang adalah rakyat Indonesia," ucapnya.

Disinggung terkait pemilihan lokasi, Furqan menjelaskan, pihaknya sengaja menggelar di Jalan Perintis Kemerdekaan yang memang dekat dengan Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Sebab, Gedung tersebut merupakan salah satu saksi bisu masyarakat Indonesia ketika merebut kemerdekaan di negeri ini.

Jelang 22 Mei, Masyarakat Diajak Kibarkan Bendera Merah Putih demi Jaga Persatuan

Kawal Hasil Pemilu 2019 dan Tegakkan Konstitusi Negara, Fisip Unpas Gelar Diskusi Terbatas

"Di gedung ini (GIM) Presiden pertama Sukarno membacakan pledoi Indonesia menggugat ketika dia disidang oleh Belanda karena ingin memerdekakan negeri ini. Jadi kita berkumpul disini dan hari ini, karena tidak terpisah dari sejarah sejarah yang sudah digoreskan atau ditorehkan sebelumnya," ucapnya.

Berdasarkan pantauan Tribun Jabar, dalam kegiatan yang bertajuk
'Menjadi Indonesia (di) Nusantara' tersebut, para peserta selain menggelar aksi menjahit bentangan kain merah dan putih, namun juga melakukan beberapa kegiatan lainnya, diantaranya melukis bersama para perupa Bandung, refleksi kebangsaan dan refleksi budaya.

Selain itu, ada juga aksi monolog atau pembacaan puisi Soekarno, yang dilakukan oleh Wawan Sofwan, ekspresi syukur yang dilakukan oleh Ahda Imran, Hary Pochang, Keni Soeriatmadja, dan Syarief Maulana, kemudian refleksi budaya oleh Mudji sutrisno SJ, Taufik Rahzen, dan doa bersama untuk bangsa oleh Jakatarub.

Pada initinya kami secara bersama-sama ingin mensyukuri anugerah terindah yang telah diberikan Indonesia ini," katanya. (Cipta Permana).

Penulis: Cipta Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved