Pilpres 2019

Moedoko Sebut Tudingan Kecurangan Pilpres 2019 Sama dengan 2014 dan Ada yang Manfaatkan Momen Pemilu

Tudingan kecurangan Pilpres 2019 yang dilakukan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno sama dengan Pilpres 2014.

Tribun Jabar/Theofilus Richard
Ketua Harian Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, ditemui wartawan di Rumah Makan Saung Bale Kambang, Bandung, Jumat (4/1/2019) 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Tudingan kecurangan Pilpres 2019 yang dilakukan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno sama dengan Pilpres 2014.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko, kepada wartawan di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

"Kalau saya melihat file 2014 tuntutannya persis. Dulu ada tujuh poin. Hampir sama. Jadi ya memang kayaknya sudah dirancang dari 2014 mungkin. Karena sama tuntutannya," ujar Moeldoko.

Andi Arief Ungkit Pilpres 2009 Antara SBY dan Megawati-Prabowo, Singgung Sikap AHY yang Dimasalahkan

Prabowo Tolak Hasil Pilpres 2019, Wiranto Akui Kalah Pilpres Berkali-kali Tapi Tetap Happy

Ia menyatakan, tudingan BPN terkait kecurangan pemilu berupa pelanggaran selama rekapitulasi suara, Pilpres yang cacat hukum, pelangggaran proses pemilu yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM), pengerahan aparat oleh pejabat daerah, dan politik uang.

Menurut Moeldoko, hal tersebut sudah pernah disampaikan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto saat menggugat hasil Pilpres 2014 ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Ia pun mempersilakan pihak yang tak menyetujui hasil Pemilu 2019 menempuh jalur hukum.

Jika tidak, maka ia meminta pihak yang tak setuju tersebut menunggu tahapan Pemilu 2019 yang sedang berjalan.

Moeldoko mengingatkan semua pihak menghormati tahapan pemilu yang tengah berlangsung agar situasi politik dan keamanan tetap kondusif.

"Jadi, sudahlah ikuti saja proses yang sedang berjalan. Agar masyarakat juga menjadi tenang. Kita semua punya kewajiban untuk membuat situasi tenang dan tidak beriak sedikit. Jadi saya berharap semua menjaga situasi tetap stabil," lanjut mantan Panglima TNI itu.

Ada yang manfaatkan situasi Pemilu 2019

Moeldoko mengatakan, ada pihak yang sengaja memanfaatkan situasi jika ada pengumpulan massa saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil Pemilu 2019.

Pengumuman hasil Pemilu 2019 dijadwalkan pada 22 Mei 2019.

"Ada upaya sistematis yang akan memanfaatkan situasi kalau terjadi pengumpulan massa. Ini harus dipahami betul oleh semua pihak. Rencana ini bukan main-main. Sungguhan. Ada sekelompok tertentu yang ingin situasi dimanfaatkan sebaik-baiknya," kata Moeldoko saat ditemui di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Oleh karena itu, ia melarang masyarakat dari daerah berbondong-bondong untuk datang ke Jakarta pada 22 Mei 2019.

Moeldoko mengatakan, yang akan dirugikan adalah masyarakat itu sendiri jika mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta.

Sebabnya, mereka yang tidak tahu-menahu nantinya akan menjadi korban jika kerusuhan pecah saat terjadi pengumpulan massa di saat penetapan presiden dan wakil presiden terpilih.

Moeldoko mengatakan, potensi penunggangan massa yang berkumpul pada 22 Mei nanti bukan skenario yang dibuat pemerintah.

Ia memastikan hal tersebut merupakan rencana yang akan dijalankan berdasarkan laporan yang diterimanya.

Selain itu, lanjut Moeldoko, saat ini juga dibangun opini seolah ada penembak jitu (sniper) yang bersiap menembak ke arah massa yang berkumpul pada 22 Mei 2019.

"Ada opini yang dibangun seolah-olah ada kelompok sniper. Ini juga dibangun semuanya ini. Agar nanti kalau ada tembakan, dari siapa pun dia, padahal bukan dari aparat keamanan, dinyatakan bahwa aparat keamanan menembak, sniper menembak," ujar Moeldoko.

"Saya ingin tegaskan, tidak ada sniper! Jadi supaya paham agar tidak digulung jadi berita yang merugikan pemerintah. Saya katakan dengan tegas, tidak ada sniper!" lanjut dia. (Kompas.com/Rakhmat Nur Hakim)

AHY Temui Jokowi di Istana Kepresidenan, Moeldoko Sebut Tak Menutup Kemungkinan Bahas Koalisi

Anies Baswedan Jadi Sorotan, Demokrat Minta Tiru Sikap AHY, Gerinda: Anies Tak Ingin Jadi Menteri

Sumber: Kompas
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved