Mesin Cetak Alquran Braille Tertua di Dunia Ada di Kota Bandung, Begini Kisahnya hingga Sekarang

Tak banyak orang tahu, Kota Bandung ternyata memiliki mesin cetak Alquran Braille tertua di dunia

Mesin Cetak Alquran Braille Tertua di Dunia Ada di Kota Bandung, Begini Kisahnya hingga Sekarang
tribunjabar/syarif pulloh anwari
Sofyan (42) tengah memasukan kertas ke dalam mesin cetak braille. Mesin untuk mencetak Alquran Braille ini merupakan mesin tertua di dunia. Sekarang mesin yang masih berfungsi ini tersimpan di percetakan Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG) di Jalan Padjadjaran, Kota Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tak banyak orang tahu, Kota Bandung ternyata memiliki mesin cetak Alquran Braille tertua di dunia dan hingga kini mesin tersebut masih berfungsi.

Mesin cetak Alquran Braille itu sekarang berada di percetakan Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG) di Jalan Padjadjaran, Kota Bandung.

Mesin cetak Alquran Braille ini konon sudah berumur 69 tahun, dirakit oleh sebuah perusahaan di Franklin, Amerika Serikat, sengaja di pesan oleh lembaga sosial Hellen Keller Internasional (HKI), dan mesin cetak braile tersebut hanya membuat enam unit mesin yang disebar ke seluruh dunia salah satunya di Indonesia.

"Hellen Keller International (HKI) itu seorang tokoh yang buta tuli bisu tapi dia bisa memberdayakan diri sampai punya gelar doktor, Beliau memesan 6 mesin press kepada pabrik thompson kemudian dibagikan kepada negara yang banyak kaum di fabel tunanetra, Salah satunya Indonesia," ujar kata Ketua Sekretariat YPWG, Ayi Hidayat kepada Tribun Jabar di kantornya, Sabtu (11/2019).

Mesin cetak Braile pertama datang dan beroperasi di Indonesia pada tahun 1952 yang langsung diterima oleh presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno dan beroperasi di kantor Badan Grafika di Jakarta untuk mencetak Alquran maupun buku-buku pelajaran bagi penyandang tunanetra.

Para Pejabat Hadiri Launching Tim Persib Bandung, Gubernur hingga Kapolda Pun Hadir

Ayi menceritakan tahun 1962 atau sepuluh tahun kemudian, mesin cetak braille tersebut dipindahkan ke Bandung mengingat Kota Bandung merupakan perintis Blind Institut yang didirikan oleh Belanda.

"Di sana sepuluh tahun. Tahun 1962 pindah ke Bandung karena orang Jakarta sadar bahwa Bandung ini pelopor blind institut yang diselenggarakan oleh tuan Westhoff pada tahun 1901,"ujarnya.

Sementara itu, mesin cetak braile bersejarah ini yang sudah puluhan tahun ini masih berfungsi dan menghasilkan cetakan Alquran braile yang pernah dikirim ke negara lain selain di dalam negeri.

"Pernah ke Kuwait, Malaysia, Thailand dan Singapura," ujarnya.

Ayi menambahkan meskipun hasil Alquran braile menggunakan mesin tua, menurutnya kalau hasilnya tidak kalah dengan mesin yang terbarukan.

Hari Keempat Eskavasi di Gua Pawon, Balai Arkeologi Bandung Temukan Benda Unik Ini

"Mesin ini masih berfungsi bahkan kapasitas produksinya kita masih berani bersaing dengan printer-printer yang baru walaupun printer ini sudah beberapa generasi, meskipun merasa khawatir dengan barang tua ini," ujarnya.

Tribun Jabar pun berkesempatan melihat proses kerja mesin cetak braile Alquran tersebut. Seorang pria bernama Sofyan (42) begitu cekatan memasukan kertas ke dalam mesin pres braile untuk membuat titik-titik timbul huruf braille.

Penulis: Syarif Pulloh Anwari
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved