30 Tunanetra Pelajari Alquran Braile, Kepala Lajnah Sebut Pengajar Braile di Indonesia Masih Minim

Ketua Umum Ummi Maktum Voice, Entang Kurniawan mengatakan egiatan membaca Alquran braile oleh penyandang tunanetra

30 Tunanetra Pelajari Alquran Braile, Kepala Lajnah Sebut Pengajar Braile di Indonesia Masih Minim
Tribunjabar/Nandri Prilatama
Sejumlah penyandang tunanetra saat mengikuti kegiatan Alquran Braile Camp di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) di Lembang, Kamis (9/5/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG - Organisasi Ummi Maktum Voice menggelar pendidikan braile kepada sejumlah tunanetra se-Jawa Barat di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (9/5/2019).

Ketua Umum Ummi Maktum Voice, Entang Kurniawan mengatakan egiatan membaca Alquran braile oleh penyandang tunanetra di Indonesia masih relatif sedikit sehingga perlu adanya pembelajaran agar mereka dapat kembali mengajarkan kepada yang lainnya.

"Prosentasenya (jumlah pembaca Alquran braile) kecil. Semoga mereka yang telah belajar ini bisa menularkan ke teman-temannya di daerah mereka," katanya di Lembang.

Entang menyebutkan prosentase jumlah pembaca Alquran braile masih sekitar 0,7 persen. Berdasarkan data statistik dari Kementerian Pendidikan pun masih di bawah 10 persen tunanetra yang mendapatkan pendidikan atau pembekalan membaca Alquran braile dari jumlah tunanetra di Indonesia yang jumlahnya 20 ribuan.

Dalam kegiatan ini, jumlah peserta yang hadir sebanyak 30 orang perwakilan dari sejumlah daerah, seperti Bogor, Jakarta, Bekasi, dan Indramayu.

VIDEO-Kisah Sopir Taksi Online Perempuan di Garut Antar Jenazah ke Banjarwangi

Entang berharap ke depannya mereka dapat menjadi instruktur Alquran braile, sebagaimana amanah dari Dirjen Kemensos dalam melayani tunanetra di seluruh Indonesia.

"Mudah-mudahan dengan kegiatan ini peserta bisa menjadi instruktur dan melayani di seluruh indonesia," ujarnya.

Ketua Pelaksana Alquran Braile Camp, Yayat Ruhyat menjelaskan Alquran Braile Camp ini sebagai ajang mengaji dan menguji.

Yayat ingin para penyandang tunanetra ini dapat memanfaatkan kebisaannya dalam membaca Alquran braile yang telah diwakafkan tersebut. Sebanyak 250 set Alquran braile diberikan ke daerah Bogor, Jakarta, Bekasi, dan Indramayu.

"30 orang ini diberikan wakaf Alquran braile yang diharapkan mereka dapat menularkan kebisaannya di daerahnya masing-masing," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lajnah Pentashihan Alquran Kemenag, Dr Muchlis M Hanafi mengakui memang masih belum maksimal jumlah pengajar Alquran braile yang ada di Indonesia, sehingga nanti di Litbang dan diklat akan diadakan pusat pendidikan dan pelatihan khusus pengajar Alquran braile.

Sejarah Kolak, Kudapan Khas Ramadhan yang Punya Makna bagi Umat Muslim

"Tahun lalu ada sebanyak 40 orang yang ikuti training guru braile. Itu kami lakukan guna memacu ketersediaan tim pengajar di Indonesia," katanya.

Saat ini saja, lanjut Muchlis pengajar formal di SLB yang telah terangkat baru ada sebanyak 50 orang se-Indonesia. Jika jumlah SLB di Indonesia saja 3.000 maka jumlah pengajar yang hanya 50 orang, Muchlis mengakui masih sangat kecil.

"Belum lagi yang ada di pendidikan non formal. Mereka itu kabanyakan belajar dari pengalaman dan menularkannya kembali ke teman-temannya," ucapnya.

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved