Pascatragedi Bom Paskah di Sri Lanka, Wanita Dilarang Kenakan Hijab, Tokoh Agama Tanggapi Beragam

Pascatragedi ledakan bom paskah di Sri Lanka, pemerintah menerapkan peraturan larangan penggunaan hijab dan cadar untuk wanita Muslim di Sri Lanka.

Pascatragedi Bom Paskah di Sri Lanka, Wanita Dilarang Kenakan Hijab, Tokoh Agama Tanggapi Beragam
(AFP/ISHARA S. KODIKARA) via Kompas.com
Seorang perempuan Muslim Sri Lanka (kanan) menjalani pemeriksaan aparat keamanan di Kolombo pada Rabu (30/4/2019). Tragedi bom Minggu Paskah yang disusul larangan mengenakan cadar membuat para perempuan Muslim negeri itu terpaksa menanggalkan hijab, cadar, atau abaya yang biasa mereka kenakan. 

TRIBUNJABAR.ID, KOLOMBO - Pascatragedi ledakan bom paskah di Sri Lanka, pemerintah menerapkan peraturan larangan penggunaan hijab dan cadar untuk wanita Muslim di Sri Lanka.

"Saya tidak lagi mengenakan abaya dan hijab beberapa hari belakangan ini karena berbagai komentar dan cara warga lain memandang saya," ujar seorang perempuan yang tak mau disebut identitasnya.

"Saya akan mengenakan hijab kembali jika situasi sudah tenang dan warga mulai tidak terlalu paranoid," ujar dia.

"Sebenarnya hijab tidak dilarang, tetapi banyak orang melihat saya dengan curiga saat melihat saya mengenakan hijab," kata dia.

Aksi Heroik Ramesh Raju yang Hentikan Pengebom Gereja di Sri Lanka, Dia Dikenang Sebagai Pahlawan

Mareena Thaha Refai, seorang pendakwah dan ketua sebuah organisasi perempuan, mengatakan, untuk saat ini lebih baik mengikuti larangan yang diterapkan pemerintah daripada memicu ketegangan antar-agama.

"Ini bukan saatnya memperdebatkan masalah hak. Lebih dari 250 orang tewas dan 500 orang lainnya luka. Turunkan emosi. Mari bicarakan masalah ini dengan tenang," ujar Mareena.

Mareena tidak melihat adanya alasan rasional larangan mengenakan hijab atau cadar yang diberlakukan pemerintah.

Sebab, tak satu pun pelaku bom bunuh diri itu menutup identitas mereka saat meledakkan gereja dan sejumlah hotel di Minggu Paskah lalu.

Sementara itu, Uskup Agung Kolombo Kardinal Malcolm Ranjith mengatakan, pihaknya tidak bisa mengambil posisi terkait larangan penggunaan cadar ini.

Cerita Rabi Korban Penembakan Sinagoge Yahudi di AS, Sampai Kehilangan Dua Jarinya

"Kami tak bisa mengambil posisi. Kami tidak tahu dasar dari strategi ini. Namun, beberapa ulama Muslim menyetujui langkah ini," ujar Ranjith.

Halaman
12
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved