Terkuak Cara Quick Count yang Nyatakan Jokowi Unggul dan Real Count Internal Prabowo, Apa yang Beda?
Terdapat perbedaan antara hasil quick count Pilpres 2019 yang dikeluarkan sejumlah lembaga dengan real count internal BPN Prabowo Subianto - Sandiaga
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi | Editor: Fauzie Pradita Abbas
TRIBUNJABAR.ID - Terdapat perbedaan antara hasil quick count Pilpres 2019 yang dikeluarkan sejumlah lembaga dengan real count internal BPN Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Dari hasil quick count lima lembaga, yakni Poltracking, Indikator, Indo Barometer, Charta Politika, dan Litbang Kompas menyatakan bahwa pasangan Jokowi - Maruf Amin unggul dari Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Rata-rata angka real count kelima lembaga itu menunjukkan Jokowi - Maruf Amin unggul 54 persen sementara Prabowo Subianto - Sandiaga Uno hanya memperoleh 45 persen.
Namun, Prabowo Subianto tak mempercayai hasil quick count yang dikeluarkan sejumlah lembaga.
Bahkan Prabowo Subianto dengan lantang mengklaim kemenangan 62 persen.
Tak main-main, Prabowo Subianto berani menyatakan unggul karena mendapat hasil real count yang dilakukan oleh internal BPN Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

Lalu, mengapa survei hasil Pilpres 2019 antara kelima lembaga tersebut dan internal BPN berbeda?
Berikut Tribun Jabar paparkan metode atau cara yang digunakan kedua pihak sehingga hasilnya berbeda.
Melansir dari Kompas.com, salah satu lembaga, Charta Politika membeberkan metode yang mereka gunakan sehingga mendapat hasil wuick count yang menyatakan Jokowi - Maruf Amin unggul.
• Ekspresi Jokowi Ketika Disambut Siap Presiden dan Diberi Hormat, TKN: Tidak Sindir Prabowo
Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan proses quick count lebih sedehana dibandingkan proses survei.
Data yang masuk berasal dari rekap C1 plano yang dilampirkan dan kemudian dimasukkan dalam sebuh sistem aplikasi.
Setelah itu, data ditabulasi kemudian menjadi sebuah angka di level nasional.
Sampel yang digunakan Charta Politika untuk quick count Pemilu 2019 berjumlah 2.000 TPS yang diambil secara acak dari total populasi TPS di seluruh Indonesia secara proporsional.

Menurutnya, Charta Politika mengambil sampel TPS menggunakan metode stratified cluster random sampling.
"Skema kerjanya sederhana. Pertama, randomisasi terhadap TPS dengan jumlah TPS yang ditentukan di awal, misalkan kalau dengan 2.000 mewakili 813.000-an (TPS)," katanya.
Metode sampling yang digunakan menggunakan tingkat kepercayaan 99 persen dengan margin of error 1 persen.
Margin of error yang dimaksud di metode ini adalah rentang kesalahan yang mungkin terjadi.
Artinya, nilai atau hasil akhir yang didapat bisa bertambah atau berkurang 1 persen.
Yunarto Wijaya mengatakan peluang terjadinya kesalahan sangat kecil apalagi yang dipakai adalah C1 plano.

Sebab, C1 plano bersifat absolut sehingga bila selama sampling dilakukan dengan cara benar maka peluang terjadi kesalahan sangat kecil.
"Kalau survei kemungkinan error-nya masih lebih banyak ketika kita membaca persepsi orang."
Survei juga bergantung pada waktu dilakukannya.
Perbedaan hari atau waktu survei akan berpengaruh pada hasilnya.
Meski sampel yang diambil 2.000 TPS, Yunarto mengatakan pihaknya sudah bisa mendapat gambaran ang merepresentasikan tingkat nasional.
Menurut Yunarto, quick count menjadi alat ilmiah untuk mengawasi proses perhitungan suara secara riil (real count).
• Hasil Real Count C1 KPU, Suara di 3 Wilayah Nyaris 100 Persen, Prabowo Salip Jokowi di Daerah Ini
"Quick count itu sebenarnya adalah membantu proses pengawasan hasil real count, yang lama, yang rentan terhadap kecurangan.
Itulah mengapa baiknya quick count ditayangkan langsung sehingga publik bisa ikut mengawasi.
Itulah mengapa quick count baiknya dilakukan tidak hanya oleh satu lembaga saja sehingga check and balances bisa terjadi, orang bisa membandingkan," katanya.
Sementara itu, pihak BPN Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menggunakan real count.
Data yang didapatkan berasal dari foto formulir C1 yang dikirimkan oleh saksi di setiap TPS.
Hal tersebut disampaikan oleh juru Bicara BPN Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Andre Rosiade.

Foto C1 dari saksi dikirimkan kepada BPN dan DPP Partai Koalisi Indonesia Adik Makmur.
Masih melansir dari sumber yang sama, Andre Rosiade mengatakan foto C1 itu kemudian dijadikan data untuk BPN melakukan rekapitulasi suara.
Ia pun membenarkan, data yang sudah masuk memang mendapai 60 persen.
"Direkap ditabulasinya akhirnya kami lihat sudah sampai 60 persen lalu diumumkan Pak Prabowo," kata Andre.
Perhitungan real count internal BPN diyakini oleh Prabowo Subianto karena para ahli statistik membenarkan hasil tersebut.
• HASIL REAL COUNT TERBARU, Prabowo Kalah Jauh Banget di Bali, di Jabar Juara Suara Selisih 1 Juta
Pada pidatonya yang disiarkan langsung TV One, Prabowo menerangkan, hasil real count itu disebut ahli statistik bisa jadi naik satu persen atau turun satu persen.
"Saya sudah diyakinkan oleh ahli-ahli statistik bahwa ini tidak akan berubah banyak," ujar Prabowo Subianto.
Perlu Anda ketahui, quick count mengguankan data sampel bukan keseluruhan sampel seperti real count.
Yang pasti hasil Pilpres 2019 tetap berasal dari real count KPU.