Pemilu 2019

KPU Jabar Akan Carikan Santunan untuk Anggota KPPS yang Meninggal dan Sakit

KPU Jabar masih mendata jumlah penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia dan sakit selama masa pencoblosan dan penghitungan suara Pemilu 2019

TRIBUN JABAR/THEOFILUS RICHARD
Ketua KPU Jabar, Rifqi Ali Mubarok, ditemui Tribun Jabar, di Kantor KPU Jabar, Jalan Garut, Bandung, Selasa (29/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - KPU Jabar masih mendata jumlah penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia dan terkena musibah atau sakit selama masa pencoblosan dan penghitungan suara Pemilu 2019, baik di tingkat TPS, Kelurahan atau Desa, sampai Kecamatan.

KPU Jabar pun mengupayakan santunan bagi mereka atau keluarganya.

Hingga sekarang ini tercatat 12 anggota KPPS meninggal dunia selama masa pemungutan dan penghitubgan suara Pemilu 2019 tersebut.

Mengenai santunan bagi anggota KPPS yang meninggal dunia ini, Ketua KPU Jabar, Rifqi Ali Mubarok mengatakan memang kesulitan mendapat peraturan yang mengatur pemberian santunan tersebut. Namun, pihaknya tengah membahas santunan tersebut dengan Pemprov Jabar.

"(Santunan) itu agak susah. Itu kan tidak mengenal santunan. Bahkan tadi kita sudah koordinasi dengan pemerintah provinsi, akhirnya kita upayakan ada santunan. Jadi selesai semua proses pemilu, kita akan mendata semua yang kena musibah meninggal, baik di tingkat TPS, kelurahan, atau kecamatan," katanya di Gedung Sate, Sabtu (20/4/2019).

12 Petugas KPPS di Jabar Meninggal Selama Pemilu 2019, Begini Kata Ketua KPU Jabar

Rifqi mengatakan tengah mendata semua musibah yang terjadi selama penyelenggaraan Pemilu yang melelahkan ini.

Tidak hanya yang meninggal dunia, Rifqi mengatakan pihaknya tengah mendata yang sakit akibat kelelahan bertugas menyelenggarakan Pemilu.

"Termasuk yang sakit. Kita masih mendata. Kelihatannya banyak juga. Bisa jadi faktor usia, kemudian punya rekam medis sakit, dan juga durasi waktu pemungutan suara yang lama," katanya.

Pada awal rekrutmen anggota KPPS, katanya, sudah disampaikan persyaratannya, termasuk mereka sudah menjalani tes kesehatan.

Ini Penyebab Banyaknya Petugas KPPS Pemilu 2019 yang Meninggal, Mulai dari Honor hingga Tekanan

Cuma masalah di lapangan, katanya, banyak yang siap jadi anggota KPPS karena secara persyaratan memenuhi, tetapi tidak banyak yang mau.

"Kan gitu ya. Maka kemudian yang sekarang di TPS itu adalah yang siap dan mau. Dan itu akan sangat luar biasa kesukarelaannya dengan honor tidak seberapa tapi mereka kerja full," katanya.

Rifqi mengatakan berharap honor penyelenggara harus lebih diperhatikan, lebih besar dari yang saat ini hanya sekitar Rp 300 ribuan per hari. Hal ini tidak berbanding lurus dengan pekerjaannya.

"Dan kita bersyukur masih ada yang mau jadi petugas KPPS, punya beban kerja cukup luar biasa, dengan honor yang terbatas. Coba bayangkan, banyak orang enggak mau jadi petugas KPPS. tanpa petugas, moal jadi pemilu," katanya. (Sam)

Libur Panjang Akhir Pekan Plus Tanggal Merah, Arus Lalu Lintas di Jalan Cagak Nagreg Macet

Musim Ini, Persib Bandung Akan Melawan Tiga Eks Pelatih: Djanur hingga Mario Gomez

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved