Santriwati Dipukul Oknum Pengajarnya

IM Histeris dan Menangis Lihat Luka Lebam di Kaki Anaknya, Dipukul Pengajar di Ponpes Tasikmalaya

IM histeris dan menangis lihat luka lebam di kaki anaknya. Ayahnya curiga Neng jalan seperti entok.

IM Histeris dan Menangis Lihat Luka Lebam di Kaki Anaknya, Dipukul Pengajar di Ponpes Tasikmalaya
Tribun Jabar/Isep Heri
Sejumlah keluarga santriwati yang menjadi korban dugaan kekerasan di sebuah pesantren mengadu ke kantor KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (20/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - IM (52), warga Cibeber, Kabupaten Cianjur, histeris dan langsung menangis melihat luka lebam di kaki anaknya yang mondok di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Tasikmalaya.

IM adalah ibu dari N (18), salah satu korban dari sejumlah korban dugaan kekerasan yang dilakukan oleh oknum pengajar sebuah pesantren di Kabupaten Tasikmalaya.

"Anak saya diduga jadi korban kekerasan, karena enggak ngaji karena saat itu sedang ada ujian sekolah jadi enggak ikut ngaji sore," kata IM saat ditemui di Kantor KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (20/4/2019).

Awalnya dia tidak mengetahui anaknya mendapat perlakuan buruk di tempat dia mencari ilmu.

Namun, hal itu diketahui pada saat sang anak pulang ke Cianjur karena akan mencoblos di Pemilu 2019.

"Ketahuannya sudah seminggu, kan, Neng-nya pulang ke rumah karena akan mencoblos. Dia enggak bilang, tapi ke kakaknya bilang," ucapnya.

"Saat jalan di rumah, kok, kelihatan jalannya enggak normal, saat ditanya ayahnya 'Neng kenapa jalan teh kayak entok?' Kakaknya bilang si Neng dihukum lihat aja kakinya," ujarnya.

Saat didesak untuk membuka bagian kakinya akhirnya N membuka dan memperlihatkan luka lebam pada ayah dan ibunya.

"Saya kaget pas lihat, saya langsung histeris nangis, lihat luka lebam di kaki anak saya. Saya enggak terima. Neng katanya 36 kali dipukul," cerita IM.

Anaknya itu baru pertama kali dihukum selama 3 tahun terakhir belajar di pesantren di Kabupaten Tasikmalaya.

Saat diminta untuk bercerita oleh IM, N mengatakan ia bukan satu-satunya santriwati yang mendapat hukuman pukulan itu.

IM dan sejumlah keluarga korban lainnya pun mengadukan peristiwa yang dialami anaknya ke KPAID Kabupaten Tasikmalaya.

"Saya berharap yang memukul jera dan ke depannya tidak ada seperti ini lagi," harapnya.

Santriwati Ini Dipukul Oknum Pengajarnya Hingga 57 Kali Menggunakan Rotan Gara-Gara Absen Ngaji

Polres Tasikmalaya Kota Imbau Warga Tetap Jaga Kondusivitas Selama Proses Hitung di KPU Berlangsung

Penulis: Isep Heri Herdiansah
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved