BNPB Bicara Soal Potensi Gempa Sesar Lembang, 260 Kepala Keluarga di Jabar akan Terdampak

"Berapa persen orang yang siap jika gempa besar tersebut datang?" kata Medi Herlianto dalam kegiatan Bimbingan Teknis Perbaikan Darurat dari BNPB

BNPB Bicara Soal Potensi Gempa Sesar Lembang, 260 Kepala Keluarga di Jabar akan Terdampak
Tribun Jabar/Daniel Andreand Damanik
Direktur Direktur Perbaikan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Medi Herlianto memberikan pemaparan terkait kesiapan untuk menghadapi gempa bumi sesar lembang di Novetel Bandung, Rabu (10/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Daniel Andreand Damanik

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Direktur Perbaikan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Medi Herlianto, mengingatkan warga Jawa Barat agar mewaspadai potensi gempa bumi Sesar Lembang.

Menurut Medi Herlianto, Sesar Lembang memiliki panjang 29 kilometer, memanjang horizontal dari Kecamatan Ngamprah, Cisarua, Parongpong, hingga Lembang atau titiknya dari Batu Loceng sampai Padalarang (Ciburuy).

Melansir Kompas, Bandung pernah diguncang gempa berkekuatan sekitar 6,5 hingga 7 pada abad ke-15 dan tahun 60 SM. Gempa itu diyakini dipicu oleh sesar aktif Lembang.

Karakteristik Sesar Lembang sebagai sesar aktif, artinya Sesar Lembang dapat berpotensi gempa bumi dan akan terulang di tempat yang sama.

Menurut Medi Herlianto, berdasarkan data hingga 2016, 260 keluarga berpotensi terdampak gempa Sesar Lembang.

Hari Ini 71 Tahun Lalu, Perempuan Hebat Asal Garut Wafat, Perempuan Intelektual Indonesia Pertama

Bandung Selatan Masih Terendam Banjir, Kendaraan Antre di Jalan Bojongsoang

"Dari angka tersebut, berapa persen orang yang siap jika gempa besar tersebut datang?" kata Medi Herlianto dalam kegiatan Bimbingan Teknis Perbaikan Darurat dari BNPB di Novotel Bandung, Rabu (10/4/2019).

Kerugian materi akibat gempa Sesar Lembang, imbuhnya, diprediksi bisa mencapai  Rp 51 triliun.

Ia menyarankan agar setiap instansi rutin melakukan simulasi karena gempa Sesar Lembang pasti terjadi.

Medi Herlianto menambahkan pada 2018 peristiwa bencana berkurang dari tahun sebelumnya namun jumlah korban meningkat.

Direktur Perbaikan Darurat BNPB tersebut menambahkan bahwa yang terpenting saat terjadi bencana ialah tahap tanggap darurat, perbaikan darurat, pencarian korban, serta pasokan makanan aman.

Ia pun menyinggung soal pentingnya kerja sama berbagai instansi saat terjadi bencana di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, relawan, dunia usaha, dan media.

Penulis: Daniel Andreand Damanik
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved