Meski Mengkhawatirkan, Jembatan Bendung Ciyasana Banyak Dipakai Warga karena Persingkat Waktu

Jembatan Bendung Ciyasana di Kampung Pintu Air, Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung,

Meski Mengkhawatirkan, Jembatan Bendung Ciyasana Banyak Dipakai Warga karena Persingkat Waktu
tribunjabar/hakim baihaqi
Jembatan Bendung Ciyangsana 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jembatan Bendung Ciyasana di Kampung Pintu Air, Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, menjadi satu akses penghubung bagi warga dari dua desa

Keberadaan Jembatan Bendung Ciyasana, ini dianggap oleh warga dapat menghemat waktu tempuh dibandingkan melintasi jalur alternatif lainnya dari Desa Rancaekek Kulon ke Rancaekek Wetan atau pun sebaliknya.

Warga Kampung Pintu Air, Kurniawan (43), bila tidak ada jembatan Bendung Ciyasana, warga terpaksa harus melintasi jalan lain, yakni via Kampung Bojong Malati atau Buah Dua.

Waktu tempuh yang diperlukan untuk melintasi jembatan Bendung Ciyasa yakni hanya lima menit, sedankan menggunakan jalur lain bisa memakan waktu lebih dari 20 menit.

"Jembatan ini sangat membantu, tidak harus jauh-jauh juga," kata Kurniawan di jembatan Bendung Ciyasana, Kabupaten Bandung, Kamis (4/4/2019).

Brankas Berisi Rp 20 Juta dan 400 Dollar Singapura Dibobol Pembantu Rumah Tangga di Pontianak

Meski menguntungkan warga dari dua desa ini, Jembatan Bendung Ciyasana, kondisinya saat ini mulai dikhawatirkan oleh warga saat melintasi jembatan tersebut, lantaran mengalami kerusakan.

Pantauan Tribun Jabar, Kamis (4/4/2019), Jembatan Bendung Ciyasana, dalam kondisi mengkhawatirkan dan sering kali terjadi guncangan saat melintas karena beberapa kayu di jembatan tersebut mulai lapuk serta besi rangka mulai keropos.

Warga lainnya Asep (39), mengatakan, bila saat bersamaan lebih dari 5 orang melintas jembatan tersebut, guncangan semakin terasa, sehingga, bahkan beberapa bilah papan alas jembatan potong dan jatuh ke aliran sungai.

"Kalau sudah seperti, saya lebih memilih dan bergantian saja, daripada ada apa-apa," katanya.


Penjaga Bendung Ciyasana, Deni Mulyana (31), menuturkan, pada 2016, jembatan tersebut mengalami proses perbaikan, namun dilakukan oleh warga secara swadaya tanpa bantuan pemerintah.

"Semua bahan-bahan dari warga dan dibenarkan juga sama warga," katanya.

Pada tinggi muka air (TMA) Sungai Cikeruh meningkat, kata Deni, banyak warga yang ketakutan bahkan enggan melintasi jembatan tersebut, karena khawatir terperosok ke aliran sungai suatu waktu.

"Sangat berbahaya juga, apalagi kalau anak-anak yang lewat," katanya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved