Sekeluarga di Padalarang, 7 Orang, Tinggal di Bekas Kandang Kambing, Impikan Rumah Layak

Ilah mengungkapkan dirinya tinggal bersama suami dan lima orang anaknya di gubuk bekas kandang kambing di Padalarang tersebut

Sekeluarga di Padalarang, 7 Orang, Tinggal di Bekas Kandang Kambing, Impikan Rumah Layak
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
Satu keluarga yang terdiri dari 7 orang tinggal di gubuk bekas kandang kambing di Kampung Cidadap, RT 3/13, Desa/Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, Kamis (28/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, PADALARANG- Keluarga yang terdiri tujuh orang tinggal di bangunan sempit berukuran 2,5x2,5 meter persegi.

Bangunan itu dahulunya adalah kandang kambing.

Pasangan Jahidin (40) dan Ilah (36) memiliki tujuh orang anak, terdiri dari lima orang laki-laki dan dua orang anak perempuan.

Mereka tinggal di Kampung Cidadap, RT 3/13, Desa/Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sudah empat tahun Jahidin bersama Istri dan anak-anaknya tinggal di bekas kandang kambing tersebut.

Ilah mengungkapkan dirinya tinggal bersama suami dan lima orang anaknya di gubuk bekas kandang kambing tersebut. Dua anak lainnya tinggal di rumah kakeknya yang memang berada di depan tempat tinggalnya itu.

Warga Asal 2 Negara Ini Masih Dominasi Tingkat Kunjungan Wisman ke Jabar

Tanggul Jebol dan Jembatan Rusak, Bupati: Perbaikannya Harus Selesai Tahun Ini

Satu keluarga yang terdiri dari 7 orang tinggal di gubuk bekas kandang kambing di Kampung Cidadap, RT 3/13, Desa/Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, Kamis (28/3/2019).
Satu keluarga yang terdiri dari 7 orang tinggal di gubuk bekas kandang kambing di Kampung Cidadap, RT 3/13, Desa/Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, Kamis (28/3/2019). (Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama)

Berdasar pantauan Tribun saat ke lokasi, ruangan tersebut tampak minim pencahayaan dan dinding-dindingnya terbuat dari bilik serta di bagian atapnya memakai terpal plastik.

Bukan hanya itu, di bagian samping tempat tinggalnya ada sebuah rak untuk menyimpan perabot rumah tangga, seperti gelas, piring, mangkok, dan lainnya. Tampak pula di sampingnya lagi ada sebuah kaskus yang terlihat tak layak.

"Sudah empat tahun kami tinggal di sini tapi baru kemarin mendapatkan bantuan dari pihak desa. Saya sih ingin mah ingin tempat yang layak tapi, ya mau bagaimana lagi," katanya di lokasi, Kamis (28/3/2019).

Jahidin, kata Ilah, sehari-hari bekerja membuat ulekan (coet) yang terkadang pendapatannya tak menentu tergantung pada ada tidaknya barang.

Antisipasi Kecelakaan, Petugas Potong Ranting Pohon yang Menjulur ke Jalan di Cadas Pangeran

Pecah Kendi, Menteri Pertanian Lepas Pengiriman Bantuan Perkebunan

"Ya kadang seminggu dapat Rp 300 ribu kadang juga tidak tapi pengeluaran kadang sehari bisa sampai dua liter untuk makan," ujarnya.

Tinggal di gubuk yang tak layak huni, Ilah pun mengeluh terkadang merasakan dingin jika memang kondisi cuaca sedang hujan. Dia berharap dapat memiliki rumah sendiri yang memang benar-benar layak.

"Kepengen sih punya rumah sendiri yang layak dan listrik sendiri. Ini juga pakai punya abah," ujarnya.

Sementara itu, mertua Ilah, Anda (75) yang ditemui di kediamannya yang tak jauh dari gubug Ilah mengaku sering mengajak Ilah dan suaminya serta anak-anaknya tinggal bersama Abah Anda dan Nenek Nana (64).

"Sudah, sudah abah ajak terus tapi tetap gak mau. Anaknya yang paling besar saja ada dua yang tinggal di sini," katanya. (*)

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved