IPW Minta Satgas Antimafia Bola Tidak Berhenti di Jokdri

Satgas, masih kata Neta, jangan membiarkan Jokdri pasang badan seorang diri.

IPW Minta Satgas Antimafia Bola Tidak Berhenti di Jokdri
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono menghadiri jadwal pemeriksanaan di Ditkrimum, Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (18/2/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola Polri menahan Joko Driyono. Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) itu menjadi tersangka perusakan dan penghilangan barang bukti kasus match fixing dan resmi ditahan, Senin (25/3/2019).

Bagi Neta, hal itu sebagai bukti keseriusan satgas menuntaskan kasus match fixing. "Tapi, satgas tak boleh berhenti hanya pada penahanan Jokdri. Kasus-kasus lainnya pun harus dituntaskan," kata Neta.

Target Satgas Antimafia Bola, Berkas Joko Driyono Beres Pekan Depan

Miljan Radovic Mengungkap Alasan Membawa Persib Bandung Jalani TC di Batam

Neta meminta Satgas Antimafia Bola Polri menyelesaikan kasus-kasus lain. Dia memandang, sejumlah pihak dan tokoh terkenal di atas Jokdri yang selama ini disebut-sebut terlibat dalam aksi pengaturan skor dan judi bola juga harus diusut dan ditahan.

"Agar sepak bola nasional bersih dari suap, judi, dan pengaturan skor atau match fixing," jelas Neta.

Neta menjelaskan, nama-nama lain yang diduga terlibat kasus match fixing lainnya seperti yang terungkap dalam program Mata Najwa pasca-penetapan Jokdri sebagai tersangka, antara lain YN, anggota Komite Eksekutif PSSI.

Satgas, masih kata Neta, jangan membiarkan Jokdri pasang badan seorang diri. "Sebab itu, orang-orang penting di atasnya seperti ADS, NDB dan dan lain-lain harus segera menjadi target satgas demi membersihkan sepak bola nasional dari aksi Mafioso," ucapnya.

IB, Wakil Ketua Umum PSSI yang pernah menjabat Kepala Staf Ketua Umum PSSI sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Arema FC, diduga terlibat kasus match fixing.

Satgas Antimafia Bola Polri menemukan adanya aliran dana kepada IB dan jajarannya ketika masih menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) tahun 2009.

Kasus ini bermula dari laporan Manajer Tim Perseba Bangkalan, Imron Abdul Fattah, pada delapan besar Piala Soeratin 2009. Saat itu Imron mengucurkan dana Rp 140 juta sebagai setoran untuk menjadi tuan rumah fase delapan besar.

Polisi menegaskan IB bisa menjadi tersangka dalam kasus ini. Namun, polisi masih melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut. Polri menegaskan kasus ini sudah naik dari penyelidikan ke penyidikan.

Dalam waktu dekat IB akan dipanggil kepolisian. Selain IB, kasus ini juga menyeret Manajer Madura United (MU), HS, yang waktu itu menjabat Ketua Pengda PSSI Jawa Timur. Dana dari Imron prosesnya diduga melewati HS. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemberantasan Match Fixing Tidak Boleh Berhenti Sampai Jokdri", https://bola.kompas.com/read/2019/03/27/19400028/pemberantasan-match-fixing-tidak-boleh-be rhenti-sampai-jokdri.

Editor: Sugiri
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved