Breaking News:

Sempat Tutupi Insiden Peluru Nyasar dan Tewaskan Mahasiswa, Pemerintah Meksiko Minta Maaf

Salah satunya terkait insiden kematian dua mahasiswa pada 2010. Dua mahasiswa pascasarjana, Jorge Antonio Mercado (23) dan Javier Francisco Arredondo

Tribun Jabar
Ilustrasi Penembakan 

TRIBUNJABAR.ID, MONTERREY - Pemerintah Meksiko terus berbenah memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan pada masa lalu.

Salah satunya terkait insiden kematian dua mahasiswa pada 2010. Dua mahasiswa pascasarjana, Jorge Antonio Mercado (23) dan Javier Francisco Arredondo Verdugo (24), menjadi korban peluru nyasar.

Kedua mahasiswa jurusan teknik itu sedang dalam perjalanan pulang dari perpustakaan kampus mereka pada 19 Maret 2010.

Keduanya kemudian terjebak di tengah baku tembak antara tentara dengan geng narkoba dan tewas di lokasi kejadian.

Namun alih-alih mengakui kesalahan karena telah tidak sengaja menewaskan warga sipil, pihak berwenang justru berusaha menutupi dengan merekayasa lokasi kejadian.

Mengenaskan, Jenazah Bayi Ditemukan di Tempat Pembuangan Sampah Pasar Minggu Jakarta Selatan

PSSI Disebut Punya Utang Miliaran Rupiah ke Promotor Pertandingan Sepakbola

Pihak berwajib meletakkan senjata di samping jenazah keduanya dan menuduh mereka sebagai anggota geng narkoba.

Atas kesalahan pihak berwajib saat itu, pemerintah Meksiko secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga kedua mahasiswa, Selasa (19/3/2019).

"Atas nama pemerintah Meksiko, saya menyampaikan permintaan maaf publik.. atas hilangnya nyawa putra-putra Anda," kata Menteri Dalam Negeri Meksiko, Olga Sanchez, kepada kedua orangtua korban, dalam sebuah seremoni di Monterrey.

Tindakan meminta maaf tersebut menjadi sikap terkini pemerintahan Meksiko di bawah Presiden Andres Manuel Lopez Obrador, dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari korupsi dan kekerasan di masa lalu.

Dua pekan sebelumnya, Gubernur Negara Bagian Veracruz, yang juga sekutu dekat Presiden Lopez Obrador, secara terbuka meminta maaf kepada keluarga lima pemuda yang tewas terbunuh pada 2016, saat oknum polisi korup menahan dan menyerahkan mereka kepada kartel narkoba untuk dibunuh.

Dilansir AFP, pemerintah federal juga telah membuka penyelidikan baru terhadap kasus serupa yang menimpa 43 pelajar di Negara Bagian Guerrero pada 2014 yang sampai memicu kecaman internasional.

Pemerintah federal bersama Pemerintah Negara Bagian Guerrero juga telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan meluncurkan rencana untuk memberi ganti rugi kepada keluarga para korban dari "perang kotor" yang dilakukan pemerintah terhadap aktivis sayap kiri pada 1960-an hingga 1970-an. (Kompas.com/Agni Vidya Perdana)

Tidak Benci Pelaku Teror di Selandia Baru, Ahmed Ingin Peluk Teroris yang Bunuh Istrinya

PM Selandia Baru Bersumpah Tidak akan Sebut Nama Teroris Karena Alasan Ini

Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved