Tiga WNI Belum Bisa Dikontak Setelah Penembakan Brutal Saat Salat Jumat di Masjid Al Noor

Tiga WNI belum bisa dikontak setelah penembakan brutal di Masjid Al Noor, Selandia Baru.

Tiga WNI Belum Bisa Dikontak Setelah Penembakan Brutal Saat Salat Jumat di Masjid Al Noor
New Straits Times
Polisi berjaga di luar Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru. 

"Kedua negara bukan hanya sekutu atau rekanan, kedua negara adalah keluarga. Sebagai keluarga kami menyatakan rasa sedih, terkejut, marah terkait insiden ini," ujar Morrison.

"Kami juga mengutuk serangan hari ini yang dilakukan seorang eksremis, teroris, sayap kanan," ujar dia.

Sebelum pernyataan PM Morrison ini, seorang pria yang menyebutnya bernama Brenton Tarrant lewat Twitter mengklaim terlibat dalam penembakan itu.

Dia juga menyebarkan rekaman "bodycam" saat penembakan terjadi ke media sosial.

Twitter kemudian memblokir akun milik pria itu.

Sebuah manifesto setebal 37 lembar juga ditemukan di internet, dikabarkan ditulis oleh Brenton Tarrant.

"Menuju masyarakat baru kita maju pantang mundur dan membicarakan krisis imigrasi massal," demikian salah satu petikan manifesto berjudul "The Great Replacement" itu.

Manifesto itu juga menuliskan bahwa serangan itu adalah balasan untuk para penyerang di Tanah Eropa dan mereka yang memperbudak jutaan warga Eropa.

"Kita harus memastikan eksistensi masyarakat kita dan masa depan anak-anak berkulit putih," demikian manifesto tersebut.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menlu Retno: 3 WNI Masih Dicari Pasca-Penembakan di Masjid di Selandia Baru".

Editor: taufik ismail
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved