Mahkamah Agung Sosialisasikan E-Court ke Advokat Peradi, Kendalanya Server Sering Lemot

Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung (MA) mensosialisasikan electronic court (e-court) pada advokat

Mahkamah Agung Sosialisasikan E-Court ke Advokat Peradi, Kendalanya Server Sering Lemot
Tribunjabar/Mega Nugraha
Sekretaris Ditjen Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung (MA) Wahyudin (kanan), Ketua Peradi Bandung Roely Panggabean dan advokat Peradi Ali Nurdin di Jalan Sumatera, Jumat (15/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung (MA) mensosialisasikan electronic court (e-court) pada advokat yang tergabung dalam Persatuan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Bandung, di Jalan Sumatera, Kota Bandung, Jumat (15/3/2019).

Pada kesempatan itu, Sekretaris Ditjen Badan Peradilan Umum Wahyudin memaparkan teknis e-court, misalnya memasukan gugatan perkara‎ dalam bentuk soft file ke situs resmi pengadilan.

"Untuk e-court, saat ini untuk perkara perdata, perdata pengadilan agama dan perkara tata usaha negara ke Pengadilan Tata Usaha Negara," ujar Wahyudin.

Sebelum e-court, setiap advokat yang mengajukan gugatan perkara keperdataan harus datang ke Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama atau Pengadilan Tata Usaha Negara. Dengan e-court, setiap advokat yang mengajukan gugatan harus datang ke pengadilan.

"Dengan e-court bisa mencegah praktik pungutan liar, makelar kasus dan praktik korupsi lainnya. Karena dengan e-court, banyak hal bisa diambil hikmahnya. Salah satunya peradilan cepat, murah dan sederhana. Dengan e-court kan tidak perlu datang ke pengadilan, tidak perlu print berkas," ujar Wahyudin.

‎Saat ini di Jabar, banyak pengadilan sudah melaksanakan sistem e-court. Bahkan, banyak diantara perkara yang didaftarkan secara e-court sudah diputus. Untuk di Jabar, 15 pengadilan sudah melaksanakan e-court.

"Termasuk PN Bandung yang paling banyak menerima perkara yang didaftarkan secara e-court. Untuk di Jabar, perkara didaftarkan secara ecourt mencapai 131 perkara dan 21 perkara sudah diputus. Kalau secara nasional, sudah ada 158 pengadilan yang sudah melaksanakan e-court," ujar Wahyudin.

Ketua Peradi Kota Bandung, Roely Panggabean menambahkan, agenda ini untuk kali kedua digelar untuk advokat Peradi Kota Bandung.

Tiga WNI Belum Bisa Dikontak Setelah Penembakan Brutal Saat Salat Jumat di Masjid Al Noor

"Sosialisasi e-court ini yang kedua kali digelar untuk advokat Peradi. Pada intinya, e-court ini sangat membantu kami untuk memudahkan pengajuan perkara secara online. ‎Secara biaya lebih murah, karena berbasis elektronik, jadi enggak usah datang sehingga efisiensi waktu dan tenaga," ujar Roely.

Misalnya kata dia, gugatan perkara keperdataan yang biasa dengan berkas tebal, di print, kini bisa didaftarkan ke pengadilan dalam bentuk soft file-nya saja.

"Dengan begitu, kan lebih murah dan lebih efisien," ujar Roely.

Ali Nurdin, anggota Peradi menambahkan e-court pada dasarnya membantu para advokat ‎memudahkan pendaftaran perkara. Paperless dan menghemat waktu karena berbasis internet.

"Memang ada kendala. Jika upload berkas gugatan, kadang servernya sibuk, prosesnya lambat. Hari ini upload, bisa berhari-hari masuknya. Tapi prinsipnya ini bagus dan sangat membantu kami para advokat," ujar Ali.


Mahkamah Agung sejak 2018 sudah mensosialisasikan program e-court ini dan sudah banyak para advokat yang memanfaatkannya.

‎"Harus dicoba namun harus pula ada perbaikan terhadap servernya. E-court ini kan makhluk baru, mau tidak mau kelak pada saatnya, e-court ini akan berjalan," ujar Ali.

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved