Warga Perum Rancaekek Permai 2 Sebut Banjir Biasanya Surut Pada Musim Kemarau

"Setiap tahun begitu, jalan akan kering bebas banjir kalau kemarau. Mudah -mudahan musim hujan tidak lama, sudah repot," kata Indri kepada Tribun Jaba

Warga Perum Rancaekek Permai 2 Sebut Banjir Biasanya Surut Pada Musim Kemarau
Tribun Jabar/ Hakim Baihaqi
Perum Rancaekek Permai 2 kebanjiran, Rabu (13/3/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Warga Perumahan Rancaekek Permai 2, Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, berharap musim kemarau pada 2019 datang lebih cepat, sehingga dapat menyurutkan banjir yang kerap melanda setiap musim hujan.

Banjir yang tak kunjung surut hingga Rabu (13/3/2019) ini, memiliki kedalaman bervariasi, mulai dari lima hingga 30 sentimeter dan merendam sebagian besar jalan di perumahan tersebut.

Berbeda dengan banjir dibeberapa wilayah lain di Kecamatan Rancaekek, air banjir yang menggenangi sebagian jalan tersebut pun, kerap berubah menjadi berwarna hitam kehitaman dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Akibatnya, beberapa warga Perumahan Rancaekek Permai 2 terpaksa mencari jalan alternatif lain untuk menghindari genangan banjir berwarna hitam dan berbau tidak sedap tersebut.

Warga Perumahan Rancaekek Permai 2, Indri (40), mengatakan, banjir yang setiap hari melanda pada saat musim hujan ini, biasanya akan surut pada musim kemarau.

"Setiap tahun begitu, jalan akan kering bebas banjir kalau kemarau. Mudah -mudahan musim hujan tidak lama, sudah repot," kata Indri kepada Tribun Jabar, Rabu (13/3/2019).

Korban Banjir Bandung Selatan Masih Bertahan di Pengungsian, Menunggu Lumpur Disingkirkan

Sore Ini Jenazah Nuryanto yang Dimutilasi di Malaysia Tiba di Rumah Duka

Selama musim hujan saat ini, kata Indri, banjir yang menggenangi jalan tidak akan surut, hal tersebut dikarenakan setiap harinya kerap diguyur hujan.

"Hujan kecil juga suka banjir, kalau parah bisa sampai 50 sentimeter," katanya.

Sementara itu, dari hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa datangnya musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi angin Timuran (Monsun Australia).

Peredaran angin monsun akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada Maret 2019, lalu wilayah Bali dan Jawa pada April 2019, akhirnya Monsun Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Juni hingga Agustus 2019.

"Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua akan masuk awal musim kemaraunya di bulan Juni 2019," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, dalam keterangan pers yang diterima Tribun Jabar.

Ingin Terbebas dari Penyakit Diabetes? Begini Cara Keluarkan Gula Darah di Tubuh dalam Waktu 3 Hari

Pemakaman Kebanjiran, Satu Jenazah Bangkit dari Kubur Terangkat dan Nyangkut di Pohon

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved