Kasus Pembunuhan CEO Perusahaan Malaysia, Pembantu Asal Indonesia Dikejar Polisi

Kini, kepolisian Malaysia juga sedang mengincar asisten rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di keluarga Nazrin Hassa.

Facebook/Nazrin Hassa
Mantan CEO Cradle Fund, Nazrin Hassa, ditemukan tewas pada 14 Juni 2018. 

TRIBUNJABAR.ID, KUALA LUMPUR - Polisi Malaysia berhasil memecahkan kasus kematian CEO Cradle Fund, Nazrin Hassa, yang tewas dalam kebakaran.

Dia dilaporkan tewas setelah ponselnya meledak saat dicas di samping tempat tidurnya sehingga menyebabkan dia terjebak dalam kamarnya yang terbakar, pada 14 Juni 2018.

Pada Senin (4/3/2019) pagi, polisi menangkap istri korban, Samirah Muzaffar, dan dua anak tirinya yang masih remaja masing-masing berusia 15 tahun dan 17 tahun.

ISIS dan Koalisi AS Bertempur di Suriah, Begini Suasa Pertempuran Sengit Itu

Dapat Kabar Andi Arief Terciduk Narkoba, Mahafud MD yang Sering Diserang di Medos Komentar Begini!

Kini, kepolisian Malaysia juga sedang mengincar asisten rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di keluarga Nazrin Hassa.

Polisi berencana untuk menangkap perempuan tersebut, yang juga menjadi tersangka dalam kasus tersebut.

"Kami yakin pembantunya pulang ke Indonesia," kata seorang sumber kepolisian, seperti dilansir Tribun Jabar dari Kompas.com yang mengutip Straits Times.

Pada November 2018, pihak berwenang telah meminta asisten rumah tangga itu muncul dan membantu investigasi pembunuhan Nazrin Hassa.

Penyelidik mengetahui keberadaan asisten rumah tangga itu setelah beberapa anggota keluarga korban diperiksa. Laporan dari The Star Online menyebutkan, Samirah, dua anak tiri korban, mantan suami Samirah, dan dua adik ipar Nazrin, telah ditahan untuk penyelidikan, namun kemudian dibebaskan.

"Dalam temuan awal investigasi, kami tanya keluarga itu apakah mereka punya pembantu. Mereka menyangkalnya," ucap sumber kepolisian.

Polisi juga tidak menemukan pembantu tersebut pada hari insiden nahas itu.

Pihak berwenang meyakini, pembantu tersebut kemungkinan pekerja ilegal karena tidak ada catatan imigrasinya.

Pada September 2018, satu di antara remaja itu ditahan untuk diinterogasi setelah luka tusukan ditemukan di leher korban.

Luka tusukan tersebut diyakini berasal dari sebuah panah.

Sementara, kedua anak tiri korban merupakan anggota klub panah di sekolah.

"Saya meminta pengadilan untuk tidak mengizinkan gambar kedua anak tersebut untuk disebarkan oleh media elektronik," kata Direktur Penuntutan Publik Datuk Jami Aripin. (Kompas.com/Veronika Yasinta)

Di Kabupaten Bandung 300 Ribu Surat Suara Telah Disortir dan Dilipat yang Rusak Hanya 0,7 Persen

Komunitas Jersey Persib Serahkan Sumbangan bagi Aditya, Mantan Persib U-17 yang Kakinya Diamputasi

ASN Boleh Sosialisasikan Program Pemerintah, Tetapi Harus Patuhi Aturan Ini

Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved