Eksklusif Tribun Jabar

Abdul Gofur Ceritakan Masalah Awal Bangun Bisnis Jembatan, Beri Uang Kompensasi 37 Pemilik Perahu

Bisnis jembatan penyeberangan orang di aliarang sungai Citarum yang berakhir di Waduk Saguling bukan tanpa masalah.

Abdul Gofur Ceritakan Masalah Awal Bangun Bisnis Jembatan, Beri Uang Kompensasi 37 Pemilik Perahu
Tribunjabar.id/Zelphi
Jembatan Papan Cangkorah: Sejumlah warga melintasi jembatan kayu papan Cangkorah di Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (28/2). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bisnis jembatan penyeberangan orang di aliarang sungai Citarum yang berakhir di Waduk Saguling bukan tanpa masalah.

Abdul Gofur, pengelola tiga jembatan di aliran Sungai Citarum, Jembatan Jubang, yang menghubungkan Kampung Cibacang dengan Kota Baru Parahyangan, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang; jembatan di Cangkorah-Seketando, yang menghubungkan Kampung Cangkorah dan Kampung Seketando, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar; dan jembatan di Batujajar-Surapatin, yang menghubungkan Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, dan Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, menceritakan masalah awal ketika hendak membangun jembatan.

Abdul Gofur mengatakan masalah terjadi ketika hendak membuat Jembatan Surapatin karena lokasi yang memang warga sekitarnya masih banyak bergantung pada perahu untuk mencari ikan di aliran Sungai Citarum.

Karena itu, pihaknya perlu mengeluarkan uang kompensasi kepada para pemilik perahu yang jumlahnya 37 orang, yakni Rp 5 juta per orang.

"Di Surapatin ini awalnya warga yang ingin menyeberang itu menggunakan perahu dengan biaya Rp 25 ribu dan PP menjadi Rp 50 ribu. Tapi melalui jembatan ini menjadi hanya Rp 5.000," ujar Gofur.

Bisnis Jembatan Penyeberangan Warga di Saguling, Setahun Bisa Terkumpul Setengah Miliar

Menurut Gofur, panjang jembatan ini berbeda-beda. Jembatan Jubang memiliki panjang 84 meter dengan lebar 2 meter, Jembatan Cangkorah 300 meter dengan lebar 2 meter, dan Jembatan Surapatin 420 meter dengan lebar 3 meter.

Tiap jembatan menggunakan jumlah drum sebagai penyangga di bagian dasarnya yang berbeda-beda pula. Jembatan Surapatin memakai 840 drum dengan bagian bawahnya ada 8 drum di setiap 4 meter, di Cangkorah 600 drum dengan 6 drum di setiap 4 meter, dan di Jubang 126 drum dengan 6 drum setiap 4 meter, serta terdapat pula penerangan jalan yang dipasang oleh pemilik.

Begitu juga material kayunya. Jembatan Jubang membutuhkan sekitar 1.000 kayu papan, Jembatan Cangkorah sekitar 3.700 kayu papan, dan Jembatan Surapatin sekitar 4.500 kayu papan.

"Pembuatannya tidak terlalu lama. Surapatin butuh waktu 40 hari. Lalu, Jubang hanya tiga minggu dan Cangkorah sekitar 40 hari juga. Saya juga jamin ini aman bisa kuat sampai 2 hingga 3 tahun, karena kami pun setiap hari selalu mengecek jika ada kerusakan-kerusakan atau perbaikan," katanya.

Kisah Asta, Driver Ojek Online yang Tetap Menjadi Guru Ngaji dan Istikomah Bagikan Nasi Bungkus

Terbantu
Warga pengguna jembatan, Erwanto Satya Lesma (31) asal Cijerah, mengaku merasa terbantu dengan adanya akses penghubung seperti jembatan ini dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.

Halaman
12
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved