Jokowi Sebut Elektabilitasnya di Jawa Barat Merosot Gara-gara Hoaks, Jubir BPN: 01 Panik

Pernyataan capres 01 Joko Widodo alias Jokowi soal elektabilitasnya yang turun 8 persen di Jawa Barat karena fitnah atau hoaks dikritik jubir BPN

Jokowi Sebut Elektabilitasnya di Jawa Barat Merosot Gara-gara Hoaks, Jubir BPN: 01 Panik
Facebook Presiden Joko Widodo.
Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA- Pernyataan capres 01 Joko Widodo alias Jokowi soal elektabilitasnya yang turun 8 persen di Jawa Barat karena fitnah atau hoaks mendapat kritikan dari Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Miftah Sabri.

Menurut Miftah Sabri, pernyataan Jokowi tersebut harus diperbaiki.

Miftah Sabri menyatakan Jokowi memang tidak pernah unggul atas Prabowo Subianto di Jawa Barat.

"Tampaknya ada kepanikan di kubu 01. Kalau memang performanya baik dalam menciptakan perekonomian individu di masyarakat  maka dia akan kebal terhadap apa pun, baik hoaks atau apa pun. Kan ini pencapaiannya biasa-biasa saja," kata Miftah Sabri kepada Tribunnews.com saat dihubungi, Sabtu (2/3/2019).

Dikatakan Miftah, jika Jokowi mengalami penurunan elektabilitas di suatu wilayah, maka yang seharusnya dilakukan yakni evaluasi.

Alasan Nama Prabowo Subianto Tak Disebut dalam Pidato Politik AHY

Merasakan Kekalahan Perdana di Piala Presiden 2019, Begini Curahan Hati Pelatih Persib Radovic

"Intinya ya sama-sama Muhasabah, karena bukan hanya Pak Jokowi saja yang menjadi korban hoaks. Pak Prabowo dan Pak Sandi pun kena," kata Miftah.

Miftah mencontohkan bagaimana Prabowo Subianto digempur hoaks yang berbau agama, mulai dari tidak bisa menjadi imam salat hingga mendukung kelompok radikalisme.

"Akhirnya untuk membantah itu semua, Pak Hashim (Hashim Djojohadikusumo, red) sampai turun ke lapangan menjelaskan semuanya," kata Miftah Sabri.

Miftah pun membantah ada kaitannya dengan kasus di Karawang yang diduga merupakan Relawan Pepes kubu Prabowo-Sandi menjadi pemicu turunnya elektabilitas Jokowi.

"Mereka itu hanya butiran debu. Itu namanya mengambil satu sampel untuk menjelaskan keseluruhan. Istilahnya synecdoche pars pro toto," pungkas politikus Gerindra tersebut.

Halaman
12
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved