Jumlah Kasus DBD di Kota Bandung Meningkat, Yana Mulyana Sarankan Ini
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bandung, jumlah kasus hingga 31 Januari 2019 telah mencapai 224 laporan.
Penulis: Cipta Permana | Editor: Theofilus Richard
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung, meningkat pada Januari 2019.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bandung, jumlah kasus hingga 28 Februari 2019 telah mencapai 345 laporan.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, mengatakan bahwa berdasarkan hasil studi sebuah kajian penelitian yang dilakukan, saat ini perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti mengalami anomali habitat.
Nyamuk yang biasanya hidup dan tumbuh di area bersuhu panas, sekarang justru tidak lagi demikian.
Hal tersebut lanjutnya, menjadikan wilayah Kota Bandung sebagai satu di antara daerah dengan jumlah penderita DBD terbanyak, dibandingkan Indramayu, Karawang, Subang, dan daerah pesisir pantai Jawa Barat lainnya.
"Berdasarkan kajian ilmiah, salah satu faktor tingginya kasus DBD yang terjadi daerah perkotaan saat ini, satunya di Kota Bandung disebabkan oleh talang air yang menjadi media atau sarana hidup dari nyamuk aedes aegypti," ujarnya usai menghadiri kegiatan kerja bakti kebersihan lingkungan dalam rangka pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di Kelurahan Cicaheum, Bandung. Jumat (1/3/2019).
Terlebih, kata Yana, hampir semua rumah di Kota Bandung itu memiliki talang air. Sehingga keberadaan talang air ini menyebabkan terjadinya genangan dari sisa air hujan.
Hal ini berbeda halnya dengan kondisi rumah-rumah di kabupaten lain, dimana air dari genting itu langsung jatuh ke tanah.
Oleh karena itu, ada juru pemantau jentik (Jumatik) yang bertugas mengedukasi dan mengingatkan kepada masyarakat, untuk rutin melaksanakan kegiatan pencegahan 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air dan mengubur barang tidak terpakai.
Selain itu, Jumantik juga bertugas mengajak masyarakat untuk rutin memeriksa talang air di setiap rumah.
"Itulah mengapa seluruh daerah di Kota Bandung rentan terjangkit DBD. Bahkan di daerah Kecamatan Kiaracondong bulan lalu terdapat dua orang bulan lalu yang telah meninggal dunia akibat penyakit ini," ucapnya.
• Foto Mantan Kapten Persib Bandung Atep Muncul di Instagram Mitra Kukar: Welcome LA
• Sanksi untuk Bobotoh Resmi Dicabut, Ini Awal Mula Hukuman yang Kemudian Dicabut Tersebut
Yana pun menuturkan, bahwa saat ini masih ada stigma yang salah di masyarakat dalam upaya pemberantasan nyamuk, salah satunya fogging atau pengasapan.
Sebab menurutnya, upaya fogging hanya berfungsi untuk mengusir keberadaan nyamuk dari satu wilayah, bukan untuk membunuh jentik nyamuk yang justru akan menjadi cikal bakal munculnya masalah DBD.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi tempat penampungan air, semisal bak mandi.
Sebab nyamuk aedes aegypty dapat hidup bukan hanya di genangan air bersih tapi juga air kotor.