Ini Latar Belakang Perubahan Fungsi Kawasan Kamojang dan Papandayan yang Semula Cagar Alam

Ini faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan fungsi kasawan Kamojang dan Papandayan yang semula cagar alam.

Ini Latar Belakang Perubahan Fungsi Kawasan Kamojang dan Papandayan yang Semula Cagar Alam
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Massa yang tergabung dalam Aliansi Cagar Alam saat berunjuk rasa di depan Kantor BKSDA Jabar, Jalan Gedebage Kota Bandung Kamis (14/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sejumlah faktor melatarbelakangi keluarnya SK Nomor 25/MENLHK/Setjen/PLA. 2 /1/ 2018‎ tanggal 10 Januari 2018 tentang perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan hutan dari sebagian kawasan Cagar Alam Kamojang.

Seperti diketahui, SK itu menuai kontra dari aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Cagar Alam. Mereka berunjuk rasa di kantor BKSDA Jabar, Kamis (14/2/2019).

"Pertama, faktor kerusakan lingkungan. Kawasan itu sudah terdegradasi oleh perambahan liar dan sudah ditinggalkan. Dengan status cagar alam, manusia tidak boleh beraktivitas di sana karena bisa memicu kerusakan lingkungan. Untuk memulihkan kerusakan lingkungan di sana, perlu campur tangan manusia untuk mempercepat pemulihan ekosistem kembali ke semula," ujar Kepala BKSDA Jabar, Ammy Nurwati di kantornya.

Kontruksi konsep cagar alam menurut aturan undang-undang membatasi gerak manusia untuk beraktifitas. Merujuk pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Pasal 1 angka 10 menyebut cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.

Di Pasal 17 ayat 1-nya, disebutkan di cagar alam dapat dila‎kukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang.

"Artinya, kegiatan di luar itu dibatasi. Sedangkan kondisi kerusakan di sana perlu direstorasi oleh campur tangan manusia," kata Ammy Nurwati.

Kedua, kata Ammy, ‎Cagar Alam Kamojang dan Papandayan memiliki kandungan air yang melimpah yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar.

‎"Kemudian masalah pemanfaatan air. Di Cagar Alam Kamojang dan Papandayan ini, terdapat sumber air yang bisa dimanfaatkan warga. Untuk mengakses dan mengelola air untuk kepentingan bersama itu, juga perlu campur tangan manusia. Agar manusia bisa memanfaatkannya, bisa dilakukan jika bukan bentuknya cagar alam," kata dia.

Faktor lainnya yang melatarbelakangi yakni pengembangan energi panas bumi di kawasan Cagar Alam Kamojang dan Papandayan.

Halaman
123
Penulis: Mega Nugraha
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved