Penderita DBD di Jabar Meningkat, Januari Sudah 18 Orang Meninggal

Tetapi jumlah penderita nyamuk demam berdarah pada tahun 2018 cenderung lebih sedikit dibanding 2016.

Penulis: Theofilus Richard | Editor: Ravianto
theofilus richard/tribun jabar
Sekretaris Dinkes Jabar, Uus Sukmara; Ketua Penggerak PKK, Atalia Praratya Kamil; dan Asisten Pemerintahan, Hukum, dan Kesejahteraan Sosial, Daud Achmad, menjadi narasumber acara Jabar Punya Informasi dengan tema DBD di Gedung Sate, Jumat (8/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jumlah penderita demam berdarah dengue/DBD meningkat sejak November 2018.

Berdasarkan data yang didapat TRIBUNJABAR.ID dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Jumat (8/2/2019) pada bulan November 2018, jumlah penderita demam berdarah sebanyak 1.022 orang.

Pada bulan Desember 2018 menjadi 1.175 orang.

Terakhir, pada Januari 2019 meningkat menjadi 2.461 orang.

"Karena keterlambatan penanganan, demam berdarah menjadi berat. Januari itu 2461 penderita, 18 di antaranya meninggal," ujar Sekretaris Dinkes Jabar, Uus Sukmara, ketika ditemui di Gedung Sate, Jumat (8/2/2019).

Jumlah penderita demam berdarah yang meninggal tersebar di Kabupaten Cianjur, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor.

Tetapi jumlah penderita nyamuk demam berdarah pada tahun 2018 cenderung lebih sedikit dibanding 2016.

Pada tahun 2016, terdapat 36.589 kasus. Sebanyak 276 orang di antaranya meninggal.

Pada tahun 2017, terdapat 11.422 kasus. Sebanyak 56 orang di antaranya meninggal.

Pada tahun 2018, terdapat 11.458 kasus. Sebanyak 57 orang di antaranya meninggal.

Sedangkan, pada Januari 2019, temuan kasus pun meningkat setiap pekan.

Pada pekan pertama, ditemukan 417 kasus.

Pekan kedua, jumlah meningkat menjadi 549 kasus.

Pekan ketiga, meningkat lagi menjadi 911 kasus.

Pekan keempat, kembali meningkat menjadi 1.113 kasus.

Uus mengatakan bahwa peningkatan jumlah penderita demam berdarah bisa disebabkan oleh musim penghujan.

Ketika musim penghujan tiba, makin banyak peluang terbentuknya genangan air.

Di genangan air itulah nyamuk bisa bertelur.

Untuk menghindari penularan penyakit demam berdarah, Uus mengimbau masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M.

Tiga M, di antaranya adalah menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas.

Disarankan juga tidur menggunakan kelambu dan obat nyamuk.

Nasional

Memasuki minggu pertama bulan Februari 2019, jumlah penderita demam berdarah secara nasional juga terus meningkat.

Kementerian Kesehatan mencatat pada periode 1 Januari hingga 3 Februari 2019 penderita demam berdarah di Indonesia mencapai 16.692 dan 169 orang meninggal dunia.

Sementara itu pada 31 Januri 2019 lalu, jumlah penderita masih berjumlah 15.132 orang dan 145 korban meninggal dunia.

Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyebutkan meski ada peningkatan namun kasus demam berdarah masih tetap terkendali.

Alasannya karena dibandingkan tahun 2016 lalu yang merupakan puncak kasus demam berdarah dengan total penderita 204.171 orang dan 1.598 orang.

Disebutkan juga jika korban meninggal dunia akibat kasus demam berdarah tahun ini masih sedikit.

“Kasus masih meningkat tetap terkendali saat ini. Artinya jumlah kasusnya masih dibawah total tahun 2016,” kata Nadia kepada Tribunnews.com, Senin (4/1/2019).

Alasan lainnya daerah yang mengalami peningkatan masus demam berdarah masih terlokalisir atau hanya meningkat di beberapa daerah saja.

“Dan daerah yang mengalami peningkatan kasus masih terlokalisir di beberapa daerah. Kecamatan pada satu dua kabupaten,” ungkap Nadia.

Berdasarkan data Kemenkes, sejak awal Januari jumlah penderita dan korban terbanyak berada di Jawa Timur yang mencapai 3.074 orang penderita dan 52 orang meninggal dunia.

Kemudian jumlah penderita terbanyak berikutnya di Jawa Barat dengan total penderita 2.204 orang, NTT 1.364 orang, Jawa Tengah 1.333 orang dan kelima Lampung 1.157 orang.

Sedangkan jumlah korban meninggal dunia terbanyak setelah Jawa Timur adalah NTT dan Sulawesi Utara yang totalnya masing-masing 15 orang, kemudian Jawa Tengah dan Jawa Barat juga jumlah korban meninggalnya sama yakni 14 orang.(*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved