Imbas Musim Hujan, 20 Ton Arang Buatan Warga Solokanjeruk Terpaksa Dikembalikan Pemesan

Musim hujan dikeluhkan oleh sejumlah warga, termasuk oleh produsen arang batok kelapa tradisional di Kampung Rancakemit.

Imbas Musim Hujan, 20 Ton Arang Buatan Warga Solokanjeruk Terpaksa Dikembalikan Pemesan
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Produsen arang batok kelapa tradisional di Kampung Rancakemit, Desa Solokanjeruk, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Senin (4/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Musim hujan dikeluhkan oleh sejumlah warga, termasuk oleh produsen arang batok kelapa tradisional di Kampung Rancakemit, Desa Solokanjeruk, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung.

Di musim hujan seperti ini, proses penjemuran arang batok kelapa jauh lebih lama dibandingkan pada musim kemarau.

Pada musim kemarau, setelah melewati proses pembakaran selama satu malam, batok kelapa kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama delapan jam dan siap dipergunakan untuk berbagai kebutuhan.

Saat ini, dalam dua pekan terakhir ini, cuaca di Kabupaten Bandung kerap berawan, sehingga waktu proses penjemuran arang batok kelapa jauh lebih lama dibandingkan pada musim kemarau.

Malam Nanti, Wilayah Sumedang Diprediksi Akan Diguyur Hujan Berintensitas Ringan

Produsen arang batok kelapa, Kusmana (65) menuturkan, belum lama ini mengirimkan sebanyak 20 ton arang ke salah satu pabrik di Surabaya, Jawa Timur, untuk kebutuhan bahan bakar penggerakan mesin produksi.

Setibanya di Surabaya, 20 ton arang batok kelapa dipermasalahkan oleh pihak pemilik pabrik di Surabaya lantaran arang yang diproduksi belum memenuhi standar bahan bakar penggerak mesin produksi tersebut.

"Setelah dicek, katanya masih ada kadar air. Saya mengakui ini karena penjemuran tidak sempurna, gara-gara mendung terus," kata Kusmana di tempat produksi arang miliknya di Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Senin (4/2/2019).

Ketua DPD Golkar Akui Tak Mudah Genjot Suara untuk Jokowi-Amin di Kabupaten Bandung, Ini Alasannya

Kusmana mengatakan, sebanyak 20 ton arang tersebut kemudian dikembalikan lagi kepada pihak produsen, karena pihak pabrik di Surabaya lebih memilih arang batok kelapa dari daerah Sumatera.

Dari pantauan Tribun Jabar, 20 ton arang tersebut saat ini tersimpang di gudang penyimpanan dan akan kembali dilakukan penjemuran, hingga kadar air di dalamnya berkurang.

Akibat hal tersebut, kata Kusmana, ia gagal mendapatkan keuntungan sebesar Rp 120 juta dan sejumlah pekerja di tempat pembuatan arang, terpaksa telat menerima upah.

"Rugi besar, 10 juta jelas melayang karena buat ongkos bolak balik. ceritanya mau cari untung, malah buntung," katanya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Yongky Yulius
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved