Rocky Gerung Sebut Abu Bakar Baasyir Batal Bebas Gara-gara Jokowi: Dia Ingin Menambal Elektabilitas

Terakhir Rocky Gerung meminta presiden Jokowi tidak bermain-main dengan statistik hanya karena kekhawatiran menurunnya elektabilitas.

Rocky Gerung Sebut Abu Bakar Baasyir Batal Bebas Gara-gara Jokowi: Dia Ingin Menambal Elektabilitas
capture vidio.com
Presiden Jokowi saat membuka Asian Para Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (6/10/2018) malam. 

TRIBUNJABAR.ID - Pengamat politik sekaligus Akademisi, Rocky Gerung mengemukakan pendapatnya terkait Abu Bakar Baasyir yang batal bebas dari penjara di program tayangan Indonesia Lawyers Club atau ILC yang ditayangkan TV One, Selasa (29/1/2019).

Saat diberi kesempatan bicara di ILC TV One, Rocky Gerung berpendapat bahwa Abu Bakar Baasyir batal bebas karena kesalahan presiden.

"Menurut saya, yang disebutkan presiden Jokowi kemarin terkait Abu Bakar Baasyir adalah hoax. Jadi sekali lagi presiden bikin hoax. Dia dibantah oleh bawahannya dan itu tidak elok," kata Rocky Gerung di forum ILC TV One.

Adapun kata Rocky Gerung, Tito Karnavian sebagai Kapolri disebut lebih pantas berbicara soal terorisme mewakili pemerintah dan bukan presiden Jokowi.

"Seharusnya Pak Tito Karnavian yang mengucapkan pikiran pemerintah, bukan presiden, supaya kalo bikin suatu kesalahan, presiden masih bisa koreksi. Ini ngaconya, presiden ambil alih sesuatu, sehingga dia akhirnya  dikoreksi oleh anak buahnya. karena enggak mungkin lagi ada di atas presiden yang bisa mengoreksi hoax yang dibuat presiden," kata Rocky Gerung.

Sementara itu, menurut Rocky Gerung Abu Bakar Baasyir yang gagal bebas tersebut terdapat motif politik.

Menurut Rocky Gerung, presiden Jokowi disebutnya ingin menambal elektabilitas.

"Di dalam pikiran publik, sinopsis itu yang ditangkap, mau dibantah dengan cara apapun publik menganggap bahwa presiden Jokowi ingin menunggangi suara Islam, karena statistik menentukan pemilu adalah tergantung pada suara Islam," ujar Rocky Gerung.

Rocky Gerung
Rocky Gerung (Tribunnews)

Selain itu, Rocky Gerung menyebut, kekuasaan saat ini compang-camping.

"Saya agak malas berkomentar lebih banyak, karena upaya untuk mencari-cari pembenaran itu justru membuat kita mengerti bahwa kekuasaan hari ini adalah compang-camping. Dan menambal sulam itu justru menambah kecompang-campingan, tambalannya pun tidak sempurna," ujar Rocky Gerung.

Sementara itu, Rocky Gerung mengatakan, soal Abu Bakar Bassyir, presiden Jokowi telah melakukan hoax.

"Gampangnya saya rumuskan begini, soal Abu Bakar Baasyir ini kita enggak tahu apakah ini kedunguan dari para stratek di dalam istana atau kesengajaan justru untuk merongrong legitimasi dari presiden Jokowi. Tapi di atas segala-galanya saya mau katakan bahwa yang dilakukan presiden juga adalah hoax. Yang dilakukan presiden adalah ketidak dewasaan di dalam berpolitik, karena dia terburu-buru, tergesa-gesa ingin segera pamer legitimasi baru," kata Rocky Gerung.

Abu Bakar Baasyir
Abu Bakar Baasyir (ISTIMEWA)

Terakhir Rocky Gerung meminta presiden Jokowi tidak bermain-main dengan statistik hanya karena kekhawatiran menurunnya elektabilitas.

"Sesuatu yang terlalu dibungkus, dibuat-buat justru menunjukkan bahwa di dalamnya ada lubang hitam yang sedang membuntuti proses demokratisasi, dan kita bisa ditelan oleh lubang hitam itu. Kesan saya terutama adalah bahwa di istana sekarang sedang terjadi 'black market of justice' pasar gelap kekuasaan, yang sampai sekarang orang tidak tahu siapa pemain utamanya, tapi yang kita tahu itu adalah ongkos yang berbahaya bagi demokrasi hari-hari ini," kata Rocky Gerung.

(Tribun Jabar/Fauzie Pradita Abbas)

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved