Kaum Disabilitas Protes Jalan Mundur di Kota Bandung, Ini yang Mereka Inginkan

Puluhan penyandang disabilitas melakukan aksi jalan mundur sebagai bentuk kekecawan terhadap minimnya perhatian pemerintah.

Kaum Disabilitas Protes Jalan Mundur di Kota Bandung,  Ini yang Mereka Inginkan
tribunjabar/syarif pulloh anwari
Penyandang Disabilitas melakukan aksi dengan berjalan mundur, Kamis (31/1/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Puluhan penyandang disabilitas melakukan aksi jalan mundur sebagai bentuk kekecawan terhadap minimnya perhatian pemerintah.

Dari pantaun Tribun Jabar, sekitar pukul 10.00 WIB, peserta aksi tergabung dalam Forum Akademisi Luar Biasa. Mereka sebagian peserta penghuni Panti Netra Wiyataguna, didukung para Atlet Paralympic Disabilitas Jawa Barat, Perkumpulan Barudak Tuna Netra Berkarya, Gerakan Pilihan Sunda dan stakeholder lainnya.

Dalam melakukan aksinya, penyandang disabilitas membentuk formasi beriringan dengan seutas tali rapia sambil memegang bahu temannya.

Sekitar pukul 12.24 WIB, peserta aksi tiba didepan Gedung Sate, Kota Bandung.

Koordinasi Lapangan, Kharisma Hakim (25) mengatakan aksi dengan jalan mundur bentuk protes terhadap pemerintah yang belum bisa memberikan perlindungan terhadap penyandang disabilitas. Contohnya masalah pendidikan, lulusan SMA SLB tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri.

"Banyak sekali contohnya misalnya, ada pendidikan luar biasa sekarang ada anak-anak yang tamat dari SMA SLB itu tidak bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, itu kan salah satu kemunduran, yang dulunya bisa, sekarang tidak bisa, karena NISN kita sendiri tidak nyangkut di Diknas, hak hak yang demikian itu saya rasa itu bisa dirangkum kedalam satu komisi yang benar benar menangani," ujar Kharisma disela-sela aksi, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (31/1/2019).

Ia mengatkan aksi ini juga digelar sebagai gambaran mundurnya sebuah keberpihakan terhadap kaum disabiltas, salah satunya pengubahan panti Wiyataguna menjadi balai.

"Panti wiyataguna itu sebelumnya menerima 250 anak, sekarang jumlah anak yang tinggal di Wiyataguna itu 175 orang, dan itu akan dipangkas lagi menjadi 50 orang. Tahun 2019 Wiyataguna tidak menerima satu klien untuk tinggal disana, padahal masih banyak teman teman kami membutuhkan,"ujarnya.

Warung Nasi Mas Jhon, Tawarkan Beragam Masakan Khas Sunda, di Pajagalan Bandung Harga Bersahabat

"Pelayanan sosial yang sebentar lagi yang akan diberlakukan ini dalam Permensos no 18, itu yang memberlakukan panti Wiyataguna akan menjadi balai," katanya.

Kharisma menambahkan dalam debat perdana capres-cawapres beberapa waktu lalu, ia belum melihat ada komitmen yang kuat dari masing-masing pasangan calon untuk penyandang disabilitas.


"Hanya sedikit ya menyinggung disabilitas, yang satu hanya termotivasi, yang satu hanya menyetarakan , tapi faktanya dilapangan pada saat ini, ini wujud nyata dari ketidaktahuan atau ketidakperhatikannya kaum disabilitas, kami ingin menjadi pemilih pemilih yang cerdas bukan pemilih pemilih yang berdasarkan apapun,"ujarnya

Dia meminta para calon yang terpilih berkomitmen dalam bentuk pelayanan, perlindungan, serta hal hal lain yang menyangkut disabilitas, bahkan yang harus adanya komisi disabilitas nasional.

"Itu menjadi wadah atau payung bagi kami seperti Komnas Ham-nya orang orang umum, apabila komisi disabilitas berdiri, ya kami dari atlet, dari pelajar dari permasalahan sosial yang banyak sekali dan itu akan menjadi badan terkuat resmi badan pemerintah," jelasnya

Penulis: Syarif Pulloh Anwari
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved