Wihara Dharma Ramsi Bandung, Dulu Kelenteng, Kini Tempat Ibadah Umat Buddha, Konghucu, & Kepercayaan
Bukan tanpa alasan Wihara Dharma Ramsi disebut-sebut sebagai satu di antara beberapa wihara tertua di Kota Bandung.
Penulis: Syarif Pulloh Anwari | Editor: Yongky Yulius
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bukan tanpa alasan Wihara Dharma Ramsi disebut-sebut sebagai satu di antara beberapa wihara tertua di Kota Bandung.
Wihara Dharma Ramsi rupanya sudah berdiri sejak tahun 1954.
Dulunya, menurut pengelola wihara Dharma Ramsi, Asikin (70), wihara itu digunakan sebagai kelenteng.
Kini, tempat ibadah yang disebut sebagai wihara itu, digunakan oleh tiga umat, yaitu Buddha, Konghucu, dan kepercayaan.
Letaknya berada di sebuah gang yang memiliki lebar tiga meter.
Gang itu tepatnya adalah Gang Ibu Aisah, Jalan Cibadak, Kota Bandung.
Saat masuk wihara tersebut, banyak sekali patung dewa dengan ukuran beragam yang menempati setiap altar.
Terdapat 27 altar dan setiap altarnya diisi patung patung para dewa.
Lebih lanjut Asikin mengatakan, patung dewa di wihara itu sudah ada sejak 1954.
• Rayakan Imlek, De Paviljoen Hotel Bandung Hadirkan Jajanan Tradisional, dari Moci hingga Angku Jambu
"Jumlah patung di sini enggak bisa dihitung, tapi kalau di wihara ini terdapat 27 altar, patung Kwang Kong yang besar ini sudah ada dari 1954 beridirinya wihara," ujar Asikin sambil menunjuk patung bernama Kwang Kong yang memiliki ukuran paling besar dari patung lainnya, Rabu (30/1/2019).
Selain patung Kwang Kong yang memiliki ukuran 2.5 x1.5 meter ini, terdapat pula patung berukuran sama besar bernama Cun Kuy Zu Shi.
Menurut Asikin, patung Cun Kuy Zu Shi diambil dan diukir sama persis dari sebuah wihara yang letaknya di sebuah gunung di Tiongkok.
• Makna dan Cara Mencuci Patung Dewa di Vihara Jelang Perayaan Tahun Baru Imlek
"Patung ini berumur kisaran 200 tahun, patung ini diukir sama persis yang berasal dari China, saat pekerja asal Bandung pergi ke China," ujar Asikin.
Patung ini, banyak sekali cerita dan keunikan yang didominasi warna serba emas dan dibalut kain warna kuning tersebut.
"Ada sejarahnya juga dulu ini tempat ini pernah kebarakan, tangannya kebakaran, masih katanya, tapi bisa dibuktikan disini. Ini sama kita sudah di kuningin atau di kimpow atau di cat, tangannya tetep item saja. Konon katanya pernah kebakar tangannya, itu keunikannya, tapi itu masih katanya tapi saya kebuktian," ujar Asikin sambil menunjukkan keunikan sejarah patung Cun Kuy Zu Shi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/wihara-dharma-ramsi.jpg)