Pengamat Politik Ini Sebut Jawa Barat Jadi Barometer Intoleransi
Pengamat Politik Universitas Padjadjaran, Prof Dr Muradi menyebut Jawa Barat menjadi barometer Intoleransi.
Penulis: Hilda Rubiah | Editor: Yongky Yulius
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilda Rubiah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Politik Universitas Padjadjaran, Prof Dr Muradi menyebut Jawa Barat menjadi barometer Intoleransi.
Hal itu ia ungkapkan dalam kegiatan Seminar Kebangsaan yang diselenggarakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Universitas Kristen Maranatha, Rabu (30/1/2019).
"Jabar ini mau tidak mau, atau suka tidak suka, jadi barometer intoleransi. Jabar tidak pernah keluar dari wilayah tiga besar penyumbang intoleran," ujarnya.
• Jadi Inspektur Upacara di SMAN 1 Purwakarta, Wakapolres Beri Pesan Tolak Intoleransi
Ia menjelaskan, Intoleransi erat kaitannya dengan radikalisme, namun dapat diartikan pula sebagai fundamentalisme.
Berbagai gambaran umum yang terjadi di kalangan masyarakat Jawa Barat terindikasi adanya tindakan intoleran.
Menurutnya hal itu terjadi karena budaya masyarakat Jawa Barat bukan merupakan model keterbukaan.
Masyarakat Jawa Barat cenderung membiarkan orang, kemudian marah, dan bertindak intoleran.
• Tangkal Intoleransi di KBB, GP Ansor: Jangan Gunakan Agama sebagai Daya Tarik Politik
Ia mencontohkan, kasus yang terjadi baru-baru ini terkait perizinan bangunan gereja yang tak terdaftar.
"1200 gereja yang tidak memiliki izin, di sana ada kesalahan hubungan jalinan regulasi dengan masyarakat lainnya," ujarnya.
Dari kasus itu, menurutnya, dapat dilihat pandangan umum kebanyakan masyarakat dalam konteks keagamaan.
"Ini yang menjadi problem di awal pembeda dari indikator yang terkena pada identitas suatu ras atau suku, jelasnya agama," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-intoleransi.jpg)