Kasus Proyek Meikarta

Ada Kode CD di Kasus Suap Meikarta, Ternyata Itu Uang Rp 300 Juta

Asep Buchori menjadi saksi kasus suap Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (28/1/2019).

Ada Kode CD di Kasus Suap Meikarta, Ternyata Itu Uang Rp 300 Juta
Tribunjabar/Mega Nugraha
Sidang kasus suap Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (28/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG -‎ Kepala Dinas Kebakaran Pemkab Bekasi, Sahat Banjarnahor dan Kepala Bidang Penyuluhan dan Pencegahan Kebakaran Pemkab Bekasi Asep Buchori menjadi saksi kasus suap Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (28/1/2019).

Keduanya menjadi saksi untuk terdakwa Billy Sindoro, Henry Jasmen, Fitradjadja Purnama dan Taryudi. Sahat dan Asep tidak mengenali Billy, dan hanya mengenali Henry Jasmen.

Dalam dakwaan jaksa untuk Billy Sindoro, mereka mendapat uang dari Henry Yasmen selaku konsultan perizinan Meikarta senilai Rp 1 miliar‎ 60 juta terkait perizinan pemasangan alat pemadam kebakaran di 53 tower dan 13 basement. Surat permohonan diajukan oleh Edy Dwi Soesianto dari perusahaan pengembang Meikarta.

Untuk pemasangan alat pemadam kebakaran di 53 tower dan 13 basement itu, disepakati Rp 20 juta per unit. Selama persidangan, mereka dicecar soal penerimaan uang yang terbagi dalam empat tahap.Tahap pertama pada Mei 2018 senilai Rp 200 juta.

"Diberi Rp 200 juta dari Henry Jasmen. Saya bagi lagi ke Asep Buchori Rp 70 juta dan sisanya oleh saya," ujar Sahat Banjarnahor.

30-an Korban Bus Bima Suci yang Terguling di Tol Cipularang, Diboyong ke Sejumlah RS di Purwakarta

‎Pada tahap II, penyerahan dilakukan pada Juni 2018 di rest area KM 19 senilai Rp 300 juta. Di persidangan, jaksa memutar rekaman percakapan antara Henry Jasmen dan Sahat Banjarnahor. Di percakapan itu, terdengar kalimat "CD" diucapkan dari keduanya untuk dibawa di rest area.

"Saat itu saya perintahkan Asep Buchori untuk membawanya," ujar Sahat. Asep Buchori membenarkannya bahwa ia diperintah Sahat untuk membawa CD ke rest area.

"Saya sempat tanya kenapa harus saya yang ambil. Tapi kata Pak Sahat, saya yang ambil. Akhirnya saya ambil ke sana," ujar Asep.

Ditanya soal apa itu "CD", Sahat dan Asep awalnya tidak mengetahui. "Saya dikasih tahu Pak Henry Jasmen, enggak tahu CD itu apa. Setelah bertemu, CD itu artinya uang. Saat itu saya terima Rp 300 juta. 120 juta ke Pak Asep dan sisanya saya," kata Sahat yang dibenarkan juga oleh Asep.

"CD itu ternyata uang," ujar kata Asep. Adapun pemberian uang tahap III senilai Rp 200 juta dilakukan di Bekasi. Sahat mendapat Rp 130 juta.

"Pada tahap 3 saya yang ambil uangnya. Dan saya dapat Rp 70 juta, sisanya sama Pak Sahat," kata Asep.

‎Pada tahap 4, ia menerima uang dalam bentuk dolar Singapura. Kemudian Asep tukarkan uang dari Henry Jasmen tersebut sehingga diketahui nilainya Rp 245 juta. Uang itu dibagi lagi antara mereka berdua.

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved