Mengalami Kebutaan Sejak Kecil dan Usia yang Renta Tak Halangi Kakek Ini Berjualan Sapu Lidi

Di usia yang tidak muda lagi ini, beberapa menit sekali, Oleh harus berhenti berjalan dan mencari tempat lokasi beristirahat sambil memijat kaki.

Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Hakim Baihaqi
Oleh (78), seorang akek asal Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, berjualan sapu lidi secara berkeliling. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Mengalami kebutaan, tak membuat Oleh (78), seorang akek asal Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, untuk berjualan sapu lidi secara berkeliling.

Setiap harinya, Oleh berangkat berjalan kaki dari gubuk kecil dari Desa Sindulang, Kabupaten Sumedang, kemudian mengitari pusat-pusat keramaian di Kabupaten Bandung untuk menawarkan sapu lidi.

Meski mengalami kebutaan, Oleh tampak ingat rute menuju pusat-pusat keramaian di Kabupaten Bandung, tanpa khawatir tersesat atau mengalami kejadian yang tidak diinginkan.


Dalam menjajakan sapu lidi tersebut, Oleh menggunakan alat pemikul berbahan bambu dan potongan kayu, kemudian belasan sapu lidi digantungkan menggunakan tali plastik.

Di usia yang tidak muda lagi ini, beberapa menit sekali, Oleh harus berhenti berjalan dan mencari tempat lokasi beristirahat sambil memijat kaki karena keletihan setelah berjalan.

Oleh bercerita, ia hidup sebatang kara dan mengalami kebutaan sejak usia delapan tahun, karena mengalami demam tinggi, sehingga fungsi penglihatannya itu lambat laun tidak berfungsi.

Cirebon Power Luluskan 19 Siswa Kelas Vokasi Ketenagalistrikan

"Abah (Oleh) masih ingat, waktu itu dibawa ke dokter sama orangtua abah, waktu pulang ko agak gelap sampai abah tidak bisa lihat lagi," ujar Oleh saat ditemui di Jalan Raya Barat Cicalengka, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Rabu (23/1/2019).

Oleh mengatakan, ia telah berjualan sapu lidi ini lebih dari 40 tahun dan sebelum berjualan sapu lidi, ia menjalani pekerjaan sebagai pencari rumput untuk hewan ternak milik warga di sekitar kediamannya.

Sapu lidi yang ia jajakan setiap harinya itu, bukanlah hasil buatan Oleh, melainkan dari perajin di Kabupaten Pangandaran dan ia mendapatkan sapu lidi tersebut dari seorang bandar di Sumedang.

"Abah ngambil dahulu, bayarnya belakangan. Ini juga terakhir ngambil tahun kemarin, sampai sekarang masih ada," katanya.

Memprihatinkan, Begini Kondisi Perpustakaan Kontainer di Taman Panatayuda Kota Bandung

Di balik keterbatasan tersebut, Oleh pun bercerita kalau ia pernah menjajakan sapu lidi ke sejumlah kota di Jawa Barat, yakni Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Garut, Bekasi, hingga Jakarta.

Setiap hari berjualan sapu lidi, kata Oleh, ia hanya mampu mendapatkan uang paling besar Rp 50 ribu, dalam satu buah sapu lidi yang terjual, Oleh hanya mendapatkan sebesar Rp 2 ribu.

"Sapunya dijual Rp 10 ribu satunya, uangnya buat makan aja. Yang penting halal dan berkah saja," katanya.

Datangi Dinas Pendidikan Jabar, Kapolda Jabar Bahas Pengawasan Hukum

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved